MESIN PENGISI REKENING OTOMATIS KLIK http://www.uangbalik.in/?id=9599909

Selasa, 08 Oktober 2013

CERITA SEX: NGENTOT SAMBIL MAKAN BAKSO



Ibu Roni
Saya menonton ibu saya berumur 35 tahun menyabuni payudara beratnya di shower lewat pintu kamar mandi yang dibuka sebagian. Dia kelihatan panas! Saya tergiur kepada ibu saya selama beberapa waktu sekarang, mulai saya sudah menginjak umur 12 dan mulai memikirkan seks dengan serius. Sekarang, di usia 14 tahun, saya mulai mematai ibu saya semakin sering. Kulit putihnya yang basah, badan seksinya yang lansing, pinggangnya seksi, payudara bulat yang besar dan jembut gelapnya. Saya mau ngentot dengannya, saya memimpikannya terus-menerus. Saya mau memperkosanya, menjadikannya budak seks saya. Saya tidak bisa tahan lagi, melihat ibu di sana. Oleh sebab itu saya kembali ke kamar saya.

Ketika saya sudah kembali ke kamar saya dan menutup pintu saya mengambil ke luar photo telanjang ibu saya. Ibu benar-benar telanjang, rambutnya basah, menyembunyikan matanya tetapi saya dapat pemandangan yang indah dari bulu memeknya dan tetek besarnya. Saya ambil borgol saya dari bawah kasur saya, ditempatkan di lantai di samping foto, saya mengambil celana, duduk dan mulai menggosok komtol saya dengan dua celana dalam wanita sutera putih ibu saya, memanjakan diri saya dengan fantasi saya memukul dan mengentot ibu saya di kamar saya. Saya ingin ibu menjerit dan meminta saya untuk berhenti, kami tinggal cukup jauh dari tetangga oleh sebab itu tak seorang pun akan mendengarnya.

Saya duduk beronani untuk waktu yang lama, berfantasi dengan suara ibu waktu menggunakan dildo di kamarnya pada malam hari (ibu tidak pernah punya lelaki lain sejak cerai 3 tahun yang lalu) suara rintihan ibu dan suara memek yang basah. Saya sudah ngaceng dan peju saya sudah siap keluar dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar saya. Jantung saya mulai berdebar, saya panik. Saya ambil celana saya untuk menutup ****** saya dan menyembuyikan borgol dan photo. Ibu saya membuka pintu dan berjalan masuk kamar saya. Ibu menggunakan handuk pink yang menutupi dadanya.

“Roni….kamu sedang ngapain? Ibu bertanya.

“Tidak ngapa-ngapain” saya menjawab seadanya. Saya sedang mengganti celana saya”

“Oh ya sudah, Ibu hanya ingin bertanya apa kamu tidak melihat celana dalam ibu di kamar mandi?” Ibu bertanya sambil melihat lihat kamarku.

Oh shit, dalam hatiku. Saya tidak mengira kalo ibu meninggalkan celana dalamnya di kamar mandi untuk dipakainya, saya kira celana dalam itu ada dikamar mandi karena ibu lupa. Dan saya baru menyadari kalo celana dalam ibu masih ada di tangan kanan saya, tangan yang saya pakai untuk memeggang celana saya untuk menutupi ****** saya yang lagi ngaceng. Ibu melihat saya, apa ada yang salah dengan saya, melihat tangan kanan saya, untuk melihat apa yang sedang saya pegang.

“Apa yang sedang kamu pegang disana” Ibu bertanya penasaran. Ibu mencoba meraih tangan saya dan tampa di sadarinya handunknya mulai sedikit turun.

“Tidak ada apa-apa” saya mencoba menghindar dan menyembunyikan celana dalam ibu dan yang lainnya di bawah celana saya.

“Yang benar Roni!” Ibu membungkuk, mencoba mengambil celana saya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang handunknya.

Saya mencoba menghindar dan ibu mengambil celana saya. Sial, ****** ngaceng saya, photo telanjang ibu dan borgor ketahuan ibu, tangan kanan saya masih memegang celana dalam ibu di paha saya. Mata ibu melotot, ibu sangat kaget dan tiba-tiba saja ibu lupa memegang handuknya sehingga handunknya jatuh kelantai bersamaan celana saya yang juga lepas dari gengaman ibu. Shit, dalam hati saya. Payudara ibu membuat saya nafsu birahi saya terbakar, saya melihat bibir memek ibu yang pink melalui jembutnya. ****** saya ngaceng lagi waktu saya melihat itu semua.

“R-R-Roni ada apa ini?” Ibu bertanya penasaran. “Berikan celana dalam ibu sekarang Roni! Berdiri and pakai celanamu!”

Dalam hati saya, sekarang atau tidak pernah sama sekali. Saya meloncat berdiri dan berdiri tepat di depan ibu, meraih kedua tangan ibu dan memegangnya kebelakang ibu dan mendorong badan ibu ke kasur. Saya cepat-cepat meraih borgol saya dan sebelum ibu beraksi lalu saya borgol kedua tangan ibu di belakangnya ketempat tidur saya.

“Roni! Roni! Apa yang sedang kamu lakukan?!” ibu marah-marah. Ibu berusaha melepaskan dirinya sendiri. Saya memegang pantat ibu yang bahenol dan menggegamnya kuat-kuat.

“Saya akan entot kamu Bu.” Saya membentak ibu. “Saya akan entot ibu sekarang”

“Jangan lakukan ini Roni! Roni! Apa yang kamu lakukan Roni?!” ibu memelas. Saya tidak ragu-ragu lagi, ini apa yang seperti saya impikan. Saya memegang paha ibu dan membuka bibir memek ibu dengan tangan kiri saya dan tangan kanan saya memegang ****** saya untuk mengarahkannya ke memek ibu.

“Aaargh!” ibu mendesah. “Hentikan! Tolong hentikan Roni! Tidak, tidak….”

Saya masukan ****** saya ke dalam memek ibu sedalam mungkin. Memek ibu masih kering dan ****** saya terasa sakit tapi saya tidak peduli. Pantat ibu naik ke atas tempat tidur, saya gegam erat-erat payudara ibu dengan kedua tangan saya. Darah keluar dari memek ibu membasahi ****** saya.

“Tolong hentikan Roni. Tolong hentikan, anakku Roni! Ini mennyakitkan Ronniii! Jangan sakiti ibu Ronniii!” Ibu memohon.

Mendengar ibu kesakitan membuat saya menyodok ibu lebih kuat. “Ooohh Ibu. Memek kamu sangat hangat! Bagaimana perasaanmu saya menyetubuhi ibu, hmm eh ibu? Kamu sekarang menjadi budak seks saya, budak untuk di entot” bentak saya.

“Saya akan keluarkan peju saya di dalam memek ibu, saya akan membuat kamu menjadi ibu dari anak saya! Jika anaknya perempuan, saya akan menyetubuhinya juga ketika dia cukup umur, hahaha! Ngetot sama anak dan saudara perempuan saya. Dan jika anaknya laki-laki, saya akan mengajak dia untuk menyetubuhi kamu juga, cucu kamu hahaha” saya membentak.

“Tidak, kamu tidak bisa! Kamu tidak bisa, jangan!” ibu memohon.

Saya pegang pinggul ibu dan menyodok ****** saya dalam-dalam pada waktu peju saya akan keluar. Saya tahan ****** saya di dalam memek ibu dan mengeluarkan semua sperma saya di dalam memek ibu. “Oooh, aaargh….ooohhh…aaarrgh…arrggh….mmmmm…..yes!” saya berteriak ketika saya orgasm di dalam memek ibu.

Dan rupanya ibu juga orgasm pada saat yang besamaan, ketika saya megeluarkan sperma saya ibu juga mengeluarkan cairan tubuhnya pada waktu yang bersamaan.

“Tidaaaakkkk, oh tidaakkk oh tidak….apa yang telah kamu lakukan! Apa yang telah kamu lakukan Roni, ooohhh Ronnniiii…” ibu saya merespon kelakuan saya.

Saya mengeluarkan ****** saya yang penuh dengan peju saya dan juga pejunya ibu dan mengelap semua peju itu ke jembut ibu yang hitam. Saya lalu mengambil kamera polaroid saya dan mengambil beberapa photo bugil ibu saya. Lalu saya jambak rambut ibu saya dan mengarahkan mulut ibu ke ****** saya yang masih keras mengaceng.

“Hentikan sekarang Roni.” Ibu memohon. “Kamu baru saja memperkosa ibu kamu dan sekarang waktunya untuk dihentikan.”

“Tidak ibu, saya ingin mengetotin mulut ibu, saya mau ibu menyepong ****** saya seperti di filem porno. Ibu harus nyepong ****** saya atau photo-phot ibu akan saya sebar di internet” saya berkata sambil menunjukkan photo bugil ibu ke depan muka ibu. “Sepong ****** saya dan biarkan saya meghisap putting susu ibu and saya akan melepaskan ibu.” Saya memohon ke ibu.

“Oh Roni….” Ibu menangis tetapi mulai mencium dan menyepong ****** saya.

Saya masih menjambak rambut ibu, saya posisikan ibu untuk berlutut dan saya duduk di tempat tidur dan menyodok ****** saya ke dalam mulut ibu. “Oh yes, enak bu, mmmmm yes” saya keenakan dengan sepongan ibu. Lalu saya memeras kedua putting susu ibu. Saya mulai tidak sabar dengan sepong ibu yang lambat maka saya mulai menyodok ****** saya dalam-dalam ke dalam mulut ibu. Ibu kaget pertama kalinya tetapi selanjutnya ibu bisa mengikuti keinginan saya. Saya menyodok mulut ibu saya dengan ****** saya seperti saya mengentotin memek ibu. Tiba-tiba saja saya orgasm untuk yang kedua kalinya di dalam mulut ibu saya, saya keluarkan beberapa peju saya di dalam mulut ibu dan sisanya saya mucratkan peju saya ke muka dan puting susu ibu. Banyak sekali peju saya, semuanya putih, kental dan hangat membasahi muka dan payudara ibu. Saya harus mengambil photo lagi, peju saya mengalir dari muka ibu jatuh ke payudara ibu.

“Apakah kamu akan membebaskan ibu Roni?!” ibu bertanya. “Ini apa yang saya impikan bu. Saya ingin menyetubuhi ibu selamanya. Saya serius ketika saya bilang saya ingin punya anak dari rahim ibu” saya menjelaskan kepada ibu.

“Tolong lepaskan saya sekarang! Kamu keparat” ibu berteriak.

Setalah itu saya merasa nafsu lagi melihat ibu yang masih telanjang penuh dengan peju saya. Lalu saya setubuhi ibu berulang kali hingga akhirnya ibu benar-benar menjadi budak seks saya
CERITA YANG LEBIH SERU KLIK DISINI
Bagi yang ingin mendapatkan uang jutaan dengan sangat mudah anda klik http://www.uangbalik.in/?id=13685870






Cerita Sex Bokep Mama Hadiah Ultahku

Cerita Sex Bokep Mama Hadiah Ultahku - Namaku Sony, umur 24 tahun. Aku seorang lajang asal Semarang dan kuliah di Jakarta. Aku akan menceritakan pengalamanku.Cerita ini berawal ketika aku pulang ke daerahku, untuk masa liburan kuliahku. Aku tinggal dengan nenekku, sedangkan mamahku serta keluargaku tinggal di rumah yang terpisah dengan nenekku.

Cerita Sex Bokep Mama Hadiah Ultahku - Pagi itu aku ke rumah mamahku karena ditelepon olehnya. Kebetulan saat itu memang ulang tahunku. Mamahku termasuk orang yang cantik, walaupun umurnya sudah lebih dari 40 tapi dia pandai merawat tubuh dan wajahnya, sehingga masih terlihat sangat cantik samoai saat ini. Saat sampai di rumah mamahku, dia langsung menyapaku dan memberi selamat ulang tahun kepadaku. Kemudian aku duduk di kursi ruang tamu. Kebetulan saat itu kakak dan ayahku sedang di Jakarta dan adikku kuliah di Bandung.

Kemudian mamahku menghampiriku dan duduk di dekatku. Lalu dengan wajah sedikit mengeluh dia meminta maaf bahwa pada saat ini tidak bisa memberikan hadiah ulang tahun kepadaku, karena krisis keuangan yang ada di keluargaku.

“Son, untuk ulang tahunmu hari ini mamah sepertinya tidak bisa memberikan kamu hadiah, karena saat ini kita sedang krisis keuangan” kata mamahku. Akupun mengangguk dan memahami perasaan mamahku.
“ Tenang aja mah, bagi Sony ulang tahun sama seperti hari biasanya”
Kulihat wajah mamahku masih ada rasa tidak enak kepadaku dan berkata, “tapi mamah tetap ga enak nih”


“ga pa pa ko mah” jawabku.
Mamahku terus menunjukkan wajah yang sedikit tidak enak padaku, dan entah ada pikiran apa yang ada di kepalaku saat itu, aku memandang tubuh mamahku yang semakin membuatku sedikit terangsang, kemudian muncul dalam pikiranku suatu ide.

“Begini aja mah, kalo mamah mau kasih hadiah sama sony, gimana kalo selama satu hari ini mamah temenin Sony ya, mau kan” kataku sambil memelas ke mamahku.
Mamahku sempat berpikir sejenak, dan kemudian mengiyakan tanda setuju.

“Baik Son, mamah setuju, asal kamu senang mamah ga keberatan ko” sahutnya.
Akupun gembira dan tanpa basa basi berkata ke mamahku:
“Benar mamah mau”? sahutku.
“Benar Son” jawabnya. “Kalau begitu nanti mamah jangan protes dan ngeluh karena nemenin Sony seharian ya” sahutku.

Mamahku hanya mengiyakan kepalanya saja tanda setuju.
“kalo begitu mamah duduknya sebelah Sony donk, jangan disitu”
kemudian mamahku berpindah tempat duduk dan duduk di sampingku, kemudian kuberanikan tanganku untuk memegang pinggangnya, tapi mamahku diam saja. Melihat reaksi mamahku, aku semakin berani dan mengelus-elus pingganggnya, sambil kepalaku di rebahkan di pundaknya.

“Mah, Sony sayang baget sama mamah” kataku
“Ii…h, anak mamah ko jadi manja gini sih”, kamu udah mandi belum Son? Tanya mamahku
“belum mah”. “ Mandi dulu gih sana”
“boleh tapi temenin ya mah” sahutku. “Dasar manja, mandi sendiri donk” kata mamahku.

“ayolah mah”, kataku. Awalnya mamahku menolak, tapi karena aku merengek terus akhirnya mamahku mau juga.
“ya udah tutup pintu dulu sana, mamah sediain air mandinya dulu” sahutnya.

Kemudian mamahkupun bergegas ke kamar mandi sedang aku menutup pintu teras dan rumah, dan setelah itu aku menuju kamar mandi.Aku melihat mamahku masih mengisi air untuk mandi, sambil membelakangiku, sehingga dia tidak sadar ketika aku masuk dan pintu kamar mandi kukunci.Kemudian aku mulai mendekatinya dan merangkulnya dari belakang, dan itu kontan membuat mamahku kaget.

“Ah…!! Desahnya, “Sony kamu bikin kaget mamah aja deh, lekas mandi sana”
“Mah, tolong bantu bukain celanaku donk” pintaku, kemudian sambil aku membuka bajuku mamahku membuka resleting celanaku dan melepaskannya. sehingga aku kini hanya memakai cd saja.
“ Nah sekarang buka baju mamah, temani Sony mandi ya” sahutku, mamahku kaget mendengar permintaanku itu. Mungkin dia mengira hanya memandikanku saja dan tidak dalam artian mandi bersama.

“Mamah tadi udah mandi ko Son tadi, masak mandi lagi” elaknya
“Udahlah mah, katanya mamah janji bakal melayaniku seharian, gimana sih”, sahutku dengan muka yang sedikit kecewa.Kemudian karena merasa tidak enak mamahku langsung membuka bajunya, melihat itu akupun menahan tangannya untuk melepas bajunya.

“Biar Sony yang buka baju mamah” kataku
Mamahku mempunyai pikiran yang konservatif dan kolot, sehingga dia merasa sedikit risih ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu per satu, kulihat mukanya sedikit merah menutupi rasa malunya, dan ketika kancingnya terlepas semua aku mulai melepas pakaiannya dan kugantungkan di gantungan baju. Lalu terlihatlah buah dada yang sangat montok dan diselimuti oleh bh yang berwarna krem. Melihat hal itu mamahku langsung menutupinya dengan kedua tangannya.

“Sudah cukup Son, begini saja” pinta mamahku, tapi aku menutup mulut mamahku dengan telunjukku.
“Kalau begini saja ga asik donk, itu namanya bukan mandi” kataku. Kemudian aku membalikkan badan mamahku sehingga mamahku membelakangiku sekarang, kutarik perlahan resleting celana rok mamahku, dan kuturunkan pelan-pelan. Maka terlihatlah cd mamahku yang berwarna merah muda, dan kulihat diantara selangkangannya menyembul bulu-bulu hitam halus yang keluar sebagian dari cdnya, akupun terkesan melihat pemandangan itu.

Melihat hal itu mamahku semakin risih dan salah tingkah, “Son sudah cukup begini aja, ah! “kamu keterlaluan deh”!!! sahut ibuku.Karena aku melihat mamahku yang sedikit ketakutan dan tegang, maka aku mencoba untuk menenangkannya.“Ya udah deh, segitu aja dulu” kataku. Lalu aku menyalakan shower dan memegang tangan mamahku yang masih menutupi bhnya.

“Sini mah kita mandi berdua” kemudian aku memeluk mamahku dari belakang. Ketika kuelus bagian perutnya mamahku semakin risih dengan gerakan tanganku itu.
“Son udah ah, biar mamah mandi sendiri aja” pintanya sambil kedua tangannya tetap melipat menutupi bhnya.
“E..ehh..! mamahkan udah janji ama Sony ga bakal protes dan ngeluh” gimana sih mamah, ko ingkar janji kataku. Mendengar hal itu mamahku hanya bisa diam pasrah. Kemudian tanganku mencoba untuk melepaskan lipatan tangan mamahku yang masih menutupi bhnya.

“Son, tolong jangan begini, please…” lirihnya
Aku tidak memperdulikan ucapannya dan ketika lipatan tangannya terbuka, tanpa berpikir lagi aku meraih payudaranya dengan kedua tanganku, kuremas-remas dan kuputar-putar payudaranya ke kanan dan kiri.
“Ahhh….! “Sudah hentikan Son” sahut ibuku sambil menggerak-gerakkan badannya untuk menghindari gerakan tanganku.
“Ok…ok… tenang donk mah, sini kita keluar dari shower, kemudian aku mengambil sabun cair dan mengusapnya ke bagian punggung mamahku.

“Maah, ko diam aja, sabunin Sony juga donk” pintaku lalu mamahku mengambil sabun cair dan mengusapnya ke bagian dadaku, sehingga kini kami saling berhadapan dan saling mengusap, walaupun kulihat wajah mamahku semakin risih dan sedikit tegang, bahkan dari matanya terlihat linangan air matanya.

Ketika usapan tanganku sudah mencapai bagian dadanya, kucoba untuk menyusupkan tanganku di sekitar bagian samping tonjolan bhnya.“Akhh… Son, tolong jangan begini” sahut ibuku sambil menahan laju tanganku yang mencoba menerobos bagian samping bhnya.

“Ayolah mah, Sony janji, setelah melepas bh mamah, Sony ga bakal melepas apa-apa lagi, ini bagian yang terakhir, gimana”, yang kumaksud adalah cd ibuku yang masih terpasang rapih walau sudah basah terkena air shower.

Mendengar hal itu mamahku hanya bisa menangis dan melepas tangannya yang mencoba menghalangi tanganku untuk merogoh bagian dalam bhnya, tanpa ragu lagi, kubalikkan badan mamahku sehingga membelakangiku, dan kuterobos kedua gundukan bhnya dengan tanganku menyusup dari bagian bawah bhnya kuraih putting susunya dan kuremas-remas.

“Arghhh…, sudah Son jangan begini, tolong, mamah ga biasa”! pinta mamahku sambil sedikit menagis
“Ahh… luar biasa banget mah, walaupun usia mamah udah 40 tahun lebih tapi susu mamah masih padet dan keras” kataku
“Jangan begini Son, Tolong, mamah mohon” kata mamahku sambil menangis.

Melihat hal itu aku mengeluarkan tanganku dari dalam bhnya, sementara tali bh mamahku sudah melorot kesamping akibat dari remasan tanganku tadi, sehingga ketika aku mengeluarkan tanganku dari dalam bh mamahku, secara otomatis kedua tonjolan bhnya langsung terurai ke bagian perutnya meninggalkan dadanya, karena kait bh bagian belakangnya belum kulepas.

Mamahku langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya, sedadngkan tanganku terus mengusap dengan sabun ke bagian perut lalu ke bawab.Ketika tanganku sudah sampai bagian celana dalamnya kuusap bagian tengah celana dalamnya dan kuremas-remas dengan tangan kananku.

“Arkhhhh…..Son tolong jangan begini, tolong jangan begini, mamah mohon” rintih mamahku

kemudian aku menghentikan gerakan tanganku dan secara tiba-tiba tanganku langsung masuk menerobos bagian dalam cd mamahku, dan ketika tanganku sampai di belahan memiawnya, kurasakan banyak cairan-cairan yang lengket di sekeliling mamahku, ternyata mamahku sudah terangsang.

“Ah……ahha…..brengsek kamu Son, kamukan udah janji ama mamah tadi”
“tenang donk mah, Sonykan tadi janji ga bakal ngelepasin cd mamah, cd mamah masih kepasang ko” sahutku sambil terus mengocok bagian dalam memiaw mamahku dengan tangan kananku. Crkk….crkkk….crkk…crukkk…bunyi kocokan tanganku di dalam cd mamahku mulai terdengar karena memiaw mamahku sudah banyak mengeluarkan banyak air yang lengket, yang keluar dari vaginanya, sehingga banyak juga air dari vaginanya yang menetes jatuh ke bawah sebagai akibat dari cd yang dipakai oleh mamahku tidak dapat lagi menyerap limpahan air orgasme dari memiaw mamahku yang mengalir terus keluar bak air bah. Busa sabun yang ada di kedua tanganku saja sampai terbilas habis oleh air mani memiaw mamahku

“ah….uh…ahh….a..aah…ughhh…hent ikan Son”, mamah mohon hent….ahh.ikan.ahhhh….ukhh…sam bil kedua tangannya memegang tembok di depannya
“Wah luar biasa banget mah, ternyata mamah ga kalah ama wanita umur 20an, bener-bener gila” sahutku. Karena pikiran mamahku yang kolot dan konservatif, mamahku masih belum menyadari kalau dirinya sudah terangsang dan mau orgasme.

“ah….ah….ugh….ah……yahh…..aduu. .h… akhhhhhh…mamah udah ga tahan Sonn, hentikann”!!!!!
“Tunggu sebentar lagi mah, itu tandanya mamah mau keluar” sahutku sambil makin mempercepat kocokan tanganku di klitoris dan memiaw mamahku, dan air mani mamahku yang terakhir yang menyembur paling dasyat dan keras. Crottt…crk…crtt…crtt…diikuti dengan terjatuhnya tubuh mamahku ke lantai, karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi karena lemas, kemudian aku dengan sigap merangkul mamahku dari belakang agar tidak jatuh ke lantai. Kulihat nafas ibuku sangat tersenggal-senggal dan tidak beraturan, air di sekujur tubuhnya lebih banyak ditutupi air keringat.

Lalu perlahan-lahan kurebahkan tubuh mamahku ke lantai. Disana tubuh mamahku yang putih mulus itu terkulai lemas dan mamah merintih sambil menangis. Tak terasa sudah 45 menit aku berada di kamar mandi “bermain” dengan mamahkuLalu akupun duduk di lantai bak mandi merangkul mamahku dan mengusap air matanya serta membelai rambutnya.

“Kamu anak brengsek Son, mamah benci sama kamu”!!!! sambil tangannya menepis tanganku yang sedang membelainya, dan mencoba mendorongku, tapi aku kemudian memeluk mamahku.
“Mah Sony sayang mamah, tolong jangan marah mah, Sony suka sama mamah” sambil kupeluk dengan erat mamahku. Mamahku hanya menagis di dadaku sambil memukul-mukul dadaku.

Kembali kubelai rambut mamahku, tapi kali ini mamahku tidak menepisnya, dan menyenderkan kepalanya di dadaku sambil tetap menangis! Lalu sambil membelai rambut mamahku, akupun mencium kening mamahku. Sepertinya emosi mamahku sudah mulai mereda.
“mah, sudah jangan menangis lagi, mamah jadi jelek kalau nangis! Sini Sony bersih kan air mata mamah” sahutku akupun mendekatkan wajahku ke wajah mamahku, lalu….srtt lidahku menjilat air mata mamahku yang masih membekas di pipinya. Mamahku ternyata diam saja melihat tindakanku itu.

Lalu mamahku mulai menceritakan kepadaku mengapa dia kaget ketika aku mulai mengocok memiawnya tadi, ternyata kehidupan seknya selama ini dengan papahku hanya sebatas cium dan penetrasi yang monoton saja tanpa adanya variasi lainnya. Sehingga mamahku belum mengetahui apa itu oral sek ataupu istilah seks lainnya, karena kupikir mungkin pikiran mamah dan papahku mengenai seks sangat minim.Lalu mamahku melihat cairan vagina yang tercecer di lantai dan mengusapnya dengan tangannya, dia memberi tahu padaku saat berhubungan dengan papahku cairan seperti ini hanya sedikit keluarnya.

“Mah, mungkin papah kurang variasi sehingga mamah kurang terangsang”
“Kamu tahu Son, kenapa mamah bisa banyak ngeluarin cairan ini”? tanya mamahku dengan emosi yang sudah reda.
“itu tandanya mamah udah terangsang dan mau orgasme, semakin banyak cairannya semakin mamah terangsang”. “tapi Sony kaget ternyata mamah bisa ngeluarin cairan sebanyak itu, luar biasa banget mah” sahutku

“udah ah, kita mandi masih belum beres tau” kata mamahku sambil berdiri setelah sekian lama terkulai di lantai.kemudian mamahku mulai mengusap punggung dan tubuhku dengan sabun dan akupun mulai kembali mengusap tubuh mamahku dengan sabun. Ketika tanganku sampai di bagian cdnya….

“Son kamu lepas aja celana dalam mamah, sekalian tolong kamu bersihkan juga ya” kata ibuku

Aku kaget mendengarnya, pikiran mamahku tentang seks rupanya sudah mulai terbuka setelah tadi berbicara sebentar, tanpa basa-basi lagi kupelorotkan cd mamahku dan nampak banyak bulu yang hitam lebat di bagian memiaw mamahku, ternyata mamahku tidak pernah memotong bulu jembutnya. Akupunulai mengelus memiaw mamahku dengan tangan yang penuh sabun.Mamahku pun terus mengelus tubuhku dan ketika sampai di cd yang kupakai mamahku masih belum berani memegang tongkolku, hanya mengelus di bagian depan cd yang kupakai, akupun maklum karena mamahkupun belum begitu tahu banyak variasi seks.

“Mah tangan mamah masukin aja ke dalam celana dalam saya” sahutku awalnya mamahku sedikit risih tapi ketika kutuntun tangan kanannya masuk ke dalam cdku ternyata dia menurut saja, “nah sekarang giliran mamah kocok Sony punya” kataku akupun mulai mengajari mamahku bagaimana cara mengocok tongkolku sesuai dengan film-film bf yang sering kutonton

“ah… kali ini giliran aku yang tak tahan dengan kocokan tangan mamahku, kemudian dia membuka cd ku dan berlutut serta mulai mengocok tongkolku dengan penuh semangat
“mah….ah….pelan-pelan mahh” sahutku

mamahku hanya sedikit tersenyum melihat aku menahan rangsangan akibat kocokan tangan mamahku. “Rasain luh, mamah bales sekarang” kata mamahk sambil tersenyum.Kemudian aku menahan tangan mamahku yang mengocok. “Mah kocoknya jangan pake tangan mah, pake mulut mamah aja, mamah juga pasti menikmatinya loh”

“ngaco kamu, jorok tau”! lagian gimana caranya ngocok pake mulut” jangan aneh-aneh ah kamu Son”
“karena itu, makanya Sony ajarin” sahutku, seperti biasa mulanya mamahku menolak dengan keras mengoralku, tapi dengan rengekanku dan mukaku yang sedikit memelas, akhirnya mamahku mau juga

“mamah ga tau caranya, ini gimana” katanya
“tenang aja mah, pertama mamah cium pake bibir mamah kepala tongkolku ini” sahutku kemudian mamah mulai mengikuti kata-kataku dan mulai mencium kepala tongkolku. “ bagus mah, cium terus jilat pake lidah mamah sekarang” kataku kemudian mamahku mulai menjilat penisku dan menciumnya.

“Ok mah sekarang batangnya juga mah” sahutku
Setelah beberapa saat aku melepaskan tongkolku dari ciuman bibir mamahku.
“Mah sekarang mamah mulai oral ya, pejamkan mata mamah terus keluarin lidah mamah sekarang, mah” pintaku

kemudian mamahku menjulurkan lidahnya keluar dan aku menaruh batang tongkolku ke atas lidahnya. “Ok sekarang mamah bawa masuk tongkol Sony pake lidah mamah ke mulut mamah” sahutku mamahkupun hanya menuruti omonganku dan Hup…setengah batang tongkolku sudah mulai masuk ke mulut mamahku.

“ok sekarang lemesin badan mamah dan mamah ikutin aja gerakan tangan Sony ya” kataku
Lalu aku mulai menjambak rambut mamahku dan menekannya ke depan, sehingga tongkolku hampir masuk seluruhnya ke mulut mamahku kemudia mengeluarkannya sebagian dan memasukkan lagi dalam-dalam ke mulut mamahku.


“Ok mah sekarang, pake gerakan mamah sendiri, ga usah dituntun tanganku lagikan” sahutku dan seolah mulai mengerti mamahku mulai mengulum tongkolku dengan gerakan kepalanya sendiri, dan akupun tidak lagi menjambak rambut mamahku karena dia sudah mengerti, dan mengubahnya menjadi membelainya.

Setelah sekian lama aku mulai ga tahan “Mah aku mau keluar mah” sahutku kemudian mamahku dengan sigap mengeluarkan tongkolku dari mulutnya dan mengocok dengan tangannya, an crot…crot…crot air maniku membasahi muka mamahku
“Mmhhhh, banyak banget Son” kamu punya Son, kemudian aku membersihkan wajah mamahku dan menyuruh mamahku duduk di pinggiran bak. “kamu mau ngapain Son” jawab mamahku

“Udah pokonya mamah turutin kata Sony aja deh” mamahkupun menuruti kataku dan duduk di pinggiran bak. “sekarang buka selangkangan mamah donk”

“jangan Son, kamu mau ngapain sih emenagnya”
“nanti juga mamah bakal tau” sahutku
ketika selangkangannya terbuka lebar, maka…. Hup mulutku langsung mencium bagian tengah memiaw mamahku


“arghhhhh…..gila kamu Son, jangan lakukan itu, hentikan ahhh….ah….Son, berhenti Son, kurasakan di mulutku memiaw mamahku sudah mulai berair lagi. Mamahku berusaha dengan keras untuk menarik kepalaku dari lubang memiawnya, tapi aku semakin membenamkan kepalaku ke memiawnya, lama kelamaan , tarikan tangan mamahku di kepalaku menjadi elusan halus yang mulai membenamkan kepalaku ke dalam memiawnya! Rupanya mamahku sudah mulai terangsang lagi
“ah….shhhh….ahhh….akhhh…enak Son. Terusin, akhhh mulutku terus menjilat menggigit, dan bahkan menghisap semua jeroan memiaw mamahku
“uahhhhh…….yeah……….terus…terus …terusin sayang…
“ah…. Ya….ya….yahhh…ah…mamah udah mau keluar lagi Son”, aku terus makin menghisap dan menjilati memiaw mamahku
“ahhhhhhhhhhh……..akhirnya mamahku orgasme untuk kedua kalinya
“gimana mah? Enakkan?” tanyaku

Mamahku hanya diam saja dan sedikit mengangguk. Lalu setelah itu kamupun membersihkan badan kami masing-masing dan saling mengelap dengan handuk tubuh mamah dan aku, karena mamahku terlihat lelah banget, karena hampir satu setengah jam aku berada di kamar mandi.

Akupun kemudian menggendong tubuh mamahku keluar kamar mandi dan membaringkan di ranjangnya
“mah, tau ga kado ulang tahunku tahun ini benar-benar sangat spesial yang mamah kasih buat aku” mamahku hanya tersenyum saja. Aku melihat jam menunjukkan pukul 12 siang, aku berpikir sayang sekali kalau 1 hari ini disia-siakan begitu saja, Aku teringat seorang temanku yang bernama Ronald, dimana dia mempunyai beberapa alat seks seperti vibrator dan sejenisnya, kulihat mamahku sudah mulai tertidur, mungkin karena kelelahan setelah bermain selama 1 setengah jam di kamar mandi. Lalu timbul suatu ide gila yang sedikit merasuki pikiranku.

“Mah, mamah istirahat dulu ya, aku mau jeluar dulu sebentar, paling hanya setengah jam-an” kataku
Mamahku mencoba untuk bangun dengan tubuh yang lemas dan masih dalam keadaan telanjang. “Sini biar mamah antar kamu keluar” sahutnya

“tidak perlu mah, aku hanya keluar sebentar ko” kataku
“memangnya kamu mau kemana Son”
“cari angin di luar sebentar, mamah istirahat aja dulu disini ok, ga perlu temenin Sony ko” kataku sambil membelai kepala mamahku

“Ya udah, kebetulan mamah juga sedikit cape nih, mau istirahat dulu sebentar” sahutnya.Akupun bergegas keluar mengenakan pakaianku dan menuju rumah temanku itu.Agar dia tidak langsung curiga, aku sengaja bermain sebentar di rumahnya, mungking sekitar 1 jam, dan begitu aku lihat sudah cukup aku bermain dengannya sambil mengobrol, maka akupun langsung berbicara ke maksud tujuanku datang ke Ronald

“Hai Nald, kamu masih mempunyai vibrator yang kamu pakai untuk bermain dengan kekasihmu dulukan”?kataku ketika sudah sampai di rumah temanku
“ada sih, memangnya ada cw yang lo mau permaenin ya, gila juga luh, ga gua sangka lo ngomong kaya begini, memangnya cewe lo cakep ya Ton” kata Ronald
“udah lah, sn gua pinjem dulu”
“Ya udah lo tunggu di sini bentar ya” katanya

“Oh ya nald, sekalian aku pinjam beberapa film bokep juga donk” kataku .Ronald hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapanku itu.Tak lama kemudian Ronald muncul sambil membawa alat-alat yang kuminta
“nih Son, lo pake aja yang puas ok, katanya”
“Oh ya, sekalian lo juga bawa ini nih” sahutnya sambil menyodorkan satu dus kondom.
Akupun pamit untuk pulang dan bergegas ke rumah mamahku.

Setelah sampai di rumah mamahku, ternyata dia sudah ada di ruang tamu dan mengenakan pakaian model korea yang dia sukai dimana modelnya selalu mempres badannya, sehingga tonjo;an dadanya semakin mencolok.
“darimana kamu Son”tanya mamahku

“Oh, aku tadi di jalan ketemu teman mah, jadi aku ngobrol sebentar” kataku.Kutaruh alat seks yang kubawa dalam tas di bawah meja agar mamahku tidak terlalu curiga, kemudian aku pura-pura bergegas menghampiri mamahku.
“ah, pegal juga nih badanku” kataku
“Sini biar mamah pijit kamu” kata mamahku
lalu mamahku mulai memijiti punggungku.

“Wah disini kayanya sempit ya mah, aku ga leluasa untuk terlentang nich” kataku. Hal ini kukatakan agar mamahku memindahkannya ke area lain yang lebih luas.
“Ya udah, mamah pijitin kamunya di kamar mamah aja yah” kata mamahku
“Wah boleh juga tuh” kataku. Ini dia yang kuingini kataku dalam hati.kemudian kamipun berpindah ke kamar mamahku


Akhirnya mamaku memijiti punggungku di dalam kamarnya, selang 15 menit kulihat keringat sudah keluar di kening mamahku, mungkin karena cuaca hari itu memang sedikit panas, dan mamahku juga terlihat sedikit lelah. Pada saat itu sambil dipijit aku mengobrol dengan mamahku. Dan lama-lama kuteruskan obrolanku yang mengarah kepada seks

“mah, mamah jarang melakukan hubungan intim dengan papah ya” kataku,mamahku diam sejenak mendengar ucapanku itu
“kamu ini, memangnya kalo jarang kenapa” kata mamahku
“mamah memang udah 10 tahun ini tidak melakukan hubungan intin lagi, karena mamah merasa sudah tua, itukan buat anak yang masih usia muda” kata mamahku

Akhirnya aku menyadari mengapa mamahku tidak terlalu mengerti dengan variasi seks.
“Wah, kalo gitu mamah salah, buktinya tadi aja mamah luar biasa di kamar mandi” kataku
“mamah benar-benar ga kalah sama anak muda yang baru kawin” timpalku
“mah, walaupun mamah udah berumur 40 tahun lebih, taoi gairah muda mamah masih bergejolak, sayang kalau dilewatkan” kataku lagi


“sudah ah, kamu jangan menggoda mamah lagi” kata mamahku
“mah, aku berkata benar ko, mamah masih punya gairah yang luar biasa, sayang kalau dilewatkan” kataku sambil membalikkan badanku dan mengelus pipinya.
“sudah ah, kamu ini gombal terus” kata mamahku
“Aku ga gombal ko, mah, gini aja kasih aku waktu 5 menit dari sekarang, kalo mamah tidak terangsang oleh gerakan Sony, maka Sony percaya kalau gairah seks mamah sudah menurun, gimana? Tawarku

“ah gila kamu” kata mamahku
“Kenapa mah, ko mamah jadi ga berani, apa mamah takut kalau kata-kata Sony itu bener?”
mendengar kata-kataku itu mamahku menjadi panas dan sedikit emosi.
“Huh, memangnya siapa yang takut, baiklah tapi inget Cuma 5 menit aja ya” kata mamahku
“ok, Cuma 5 menit, kalau dam waktu 5 menit mamah ga terangsang, Sony janji ga bakal godain mamah lagi hari ini, tapi kalo dalam waktu 5 menit mamah terangsang, mamah harus nerima permintaan Sony yang lain ya” kataku. Saat itu mamahku hanya diam saja. “nah karena mamah diam berarti Sony anggap setuju ya” kataku

Lalu akupun bergegas mendekati wajah mamahku dan menciun pipinya, lalu kuteruskan ke bagian telinganya, kucium dan kujilat bagian telinga dalamnya, sambil tangan kananku mengelus pahanya, sehingga rok yang dipakainya tersingkap, sedang tangan kiriku meremas payudara kiri mamahku. Melihat permainanku itu, mamahku yang sejak tadi berusaha untuk menahan rangsangan tanpa sadar mengeluarkan sedikit desahan.

“mmhhhh….uhhhhh…ukhh…hha..h, Son, sudah ah” hentikan” sahut mamahku
“tenang aja donk mah, inikan baru 1 menit lebih” kataku sambil terus kucium dan kujilati bagian pipi, telinga dan kuping, dan tanganku kini sudah diam di bagian tengah memiawnya, sambil kuelus dan kuputar-putar tanganku di bagian tengah memiawnya.
Dan saat itu kurasakan adanya bagian celana dalam mamahku yang mulai basah.
“Akhhhh….ughhh..ahahh….udah Son, please, mamah nyerah deh, masih banyak kerjaan nih” kata mamahku.

Kemudian mamahku bergegas berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena terkena remasan-remasan tangan nakalku, dan pergi untuk menyetrika pakaian-pakaian yang belum digosok. Sambil mamahku menyetrika kuhampiri mamahku.

“nah, sekarang berarti mamah harus menuruti permintaan Sony yang laennya ya, kan tadi mamah udah kalah” kataku
“memangnya kamu mau apa lagi Son” sahut mamahku
“sekarang terbukti kan omongan Sony kalau gairah seks mamah ternyata masih meledak-ledak, sayang kalau dibiarkan begitu saja mah” sahutku
“Ah, dasar nakal kamu” kata mamahku
“nah maksud Sony, Sony ingin penampilan mamah untuk hari ini aja, sesuai yang Sony mau” sahutku
“maksudmu”?

“Sony rasa Bh dan cd yang mamah gunakan tidak cocok untuk mamah, seperti benar-benar orang yang sudah tua, apalagi cd mamah seperti cd anak kecil” kataku
“semakin lama, semakin ngaco kamu Son” kata mamahku
“ayolah mah, untuk hari ini aja” pintaku
“jadi kamu mau apa” sahut ibuku

“nanti kita ke luar, n kita pilih bh dan cd yang sesuai buat mamah” kataku
“mau ya mah….”pintaku, dengan sedikit manja
“tterserah kamulah” kata mamahku
setelah selesai menyetrika aku dan mamahku keluar menuju sebuah mal di daerahku, dan menghampiri bagian pakaian dalam untuk wanita.
“yang mana yang kamu suka Son” kata ibuku

kemudian aku melihat bh berwarba hitam dengan sedikit obrasan bunga di kedua tonjolannya, serta cd berwarna hitam yang terbuat dari bagan parasut dengan dilapisi bagian busa yang tipis di lengkungan untuk memiaw perempuan, dengan model G-string.
“nah yang ini aja, mah” kataku
“kamu yakin, mamah cocok dengan yang seperti ini” kata ibuku
“pasti cocok, mah” kataku

Akhirnya ibukupun membeli bh dan cd yang kutunjuk tadi, dan tidak lupa akupun mengambil stoking berwarna hitam yang masih berada di tempat yang sama.
“Itu buat apa Son” tanya mamahku
“nanti juga mamah tau” kataku

setelah membayar, aku baru teringat kalau mamahku tidak mempunyai celana rok yang pendek.
“oh ya mah, sekalian kita beli celana rok buat mamah juga ya” kataku
“buat ngapain lagi sih” sahut ibukyu dengan sedikit emosi
“ayolah mah, pokonya Sony ingin hari ini mamah keliatan cantik banget di hari ultah Sony ini” kataku
mamahku pun hanya bisa pasrah menuruti permintaanku, dan singkat cerita aku telah membelikan celana rok yang pendek untuk mamahku dan setelah itu kamipun pulang ke rumah.

“Nah sekarang Sony mau mamah memakai semua yang kita beli tadi, kataku, kecuali baju mamah, yang lain harus diganti” kataku. Model baju mamahku adalah model baju korea dimana bisa mempres badan ketika dipakai, dan bisa melar ketika ditarik oleh tangan, seperti terbuat dari karet, walupun itu sebenarnya dari kain, karena kulihat mamahku sangat seksi jika memakai pakain seperti itu.

Lalu mamahkupun bergegas ke kamar untuk mengganti bagian dalamnya dengan yang baru dibeli, sedang aku menunggu di luar.
Ketika mamahku selesai dan keluar kamar dengan menggunakan rok yang pendek disertai stoking panjang berwarna hitam akupun terpana melihatnya, apalagi bagian dadanya yang kurasa sudah memakai bh yang tadi dibeli, karena mamahku memakai baju korea dan mempres badannya, sehingga terlihat ada sedikit ukiran bunga yang sedikit timbul dari bajunya yang berasal dari bhnya.

“wuaw, mamah seksi banget n cantik banget” kataku sambil menghampiri mamahku. Kubimbing mamahku ke kursi tamu dan di situ tak habis-habisnya aku terpana melihat kecantikan dan keseksian mamahku sambil tanganku mengelus-elus pahanya
‘Sudah ah Son, mamah sedikit risih nih” sahut ibuku.lalu kudekatkan wajahku ke wajah ibuku dan kucium pipinya, ibuku berusaha untuk mengelak ciuman itu, tapi karena tanganku memegang wajahnya mamahkupun hanya bersikap pasrah, setelah itu ciumanku kuteruskan ke bibir ibuku yang sedikit basah dan mungil, kucium dan kujilati semua bagian bibir mamahku, lalu sejenak aku melepaskan ciumanku pada ibuku.

“mah mulutnya jangan ditutup terus donk” pintaku
“sudah ah Son, hent…” belum sempat selesai bicara kembali kucium bibir mamahku, tangan kananku sudah mulai meremas-remas susu kanannya, kupaksa memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan kujilat lidah mamahku serta semua ronnga-rogga mulutnya.

“Mmmhhhhhh….” Hanya itu suara yang keluar dari mamahku, lalu akupun kembali melepaskan ciumanku.
“mah ada sesuatu yang spesial buat mamah loh”
“apa itu” kata mamahku
“eit, mata mamah harus ditutup dulu” kataku“”Sudah ah, kamu ini dari tadi macam-macam” sahut ibuku
“Ayolah mah” kataku seraya mulai menutup mata mamahku dengan kain dan mengikatnya. Lalu akupun pergi mengambil vibrator yang kupinjam dari temanku dan kembali menghampiri ibuku.
“kesini mah ikut Sony” seraya mengambil tangan ibuku dan menuntunnya ke kamarnya. Setela itu kududukkan ibuku di ranjangnya dan kutaruh vibrator di pinggir ranjangnya.

Setelah itu aku kembali mencium bibir mamahku, sambil kurebahkan dia di ranjang, dan tangan kananku berusaha untuk membuka pahanya dan mengelus elus bagian tengah selangkangannya yang masih ditutupi cd berwarna hitam, sedang tangan kiriku menyusup ke balik bajunya dan meremas-remas susu kanannya, setelah kurasakan mulai sedikit lembab, aku mengambil vibrator dan menyalakannya.

“Bunyi apa itu Son” sahut mamahku sambil melepaskan ciuman bibirku
“sudah lah, diam dan nikmati aja ya mah” sahutku
akupun langsung menggesek-gesekkan vibrator itu ke bagian tengah celana dalam mamahku secara lembut dan pelan
“Ahhhh…..uh……ukh…geli sekali… apa itu Son” tanya mamahku

Aku hanya diam saja dan supaya mamahku tak terlalu berisik kembali kucium bibir mamahku untuk meredam suara mamahku agar jangan terlalu kencang, kutaruh vibrator di samping mamahku dan kulepas rok yang dipakai oleh mamahku, lalu kueluskan kembali vibrator tadi ke bagian tengah memiaw mamahku yang masih memakai cd, dan ternyata cd mamahku sudah semakin basah oleh air dari vaginanya.

“Ummhhhhh…..ukhh..hhhhh…emmmmh hh….desah mamahku dengan mulut yang masih kucium dengan bibirku. Kutarik lengan kiriku dari dada mamahku, lalu aku mulai membuka baju dan celanaku dengan tangan kiriku, sehingga aku hanya memakai cd saja. Lalu kulepas dan kulucuti pakaian mamahku, sehingga saat ini mamaku hanya mengenakan bh dan cd yang dibalut dengan stoking berwarna hitam. Kutaruh vibrator yang kupakai tadi, dan kuposisikan mamahku untuk duduk bersandar pada pinggiran ranjang, kubentangkan dengan lebar kedua kaki mamahku, dan…”ahhhhhh….ahaaahhh…” desah mamahku ketika aku mulai mencium bagian tengah memiawnya yang masih tertutup cd. Kujilat dan kuhisap celana dalam mamahku. Mamaku hanya menggeliat-geliatkan tubuhnya sambil kedua tangannya bertumpu di belakangnya, dan mencengkram sprei kasurnya dengan kuat.

“ahhh..ukh…mmhhh….geli…auhhh…g eli banget…Son…mmhhh…nikmat….ahhh” desah mamahku. Sambil tetap menghisap selangkangannya, kedua tanganku mulai meremas-remas kedua gundukan dada mamaku yang masih tertutup bhnya, dan akupun membuka pengait bh yang ada di bagian depan bh mamaku, sehingga kini mamaku hanya mengenakan cd dan stocking hitam yang masih menempel ketat di sepasang kakinya. Lalu kulepas ciumanku dari selangkangan mamaku, dan kutarik cd mamaku yang sudah basah akibat dari air liurku dan bercampur juga dengan air dari vagina mamaku. Sesaat aku terdiam melihat bulu-bulu hitam mamaku yang begitu lebat yang berada di sekitar selangkangannya. Lalu kubuka kembali kedua kaki mamaku lebar-lebar dan kucium, kujilat dan kuhisap bagian dalam memiaw mamaku.

“akhh…uhhh…ge..l..ii….akhh…hhh …geli banget son….ohhhh…”rintih mamaku. Lalu kulepas isapan mulutku dari liang memiaw mamaku, dan membuka bibir vagina mamaku lebar-lebar dengan kedua jempolku, kukeluarkan air liurku dan kumasukkan ke dalam lubang memiaw mamaku, setelah lubang di dalam memiaw mamaku penuh air liur, kembali kuhisap dan kujilat memiaw mamaku.

“aohhhhhh…akhhh…mhhhh…ukhkhhh… geli…suda..h…hent..t ika….”rintih mamaku sambil menggeliat-geliatkan badannya dengan sangat kuat. Kali ini kulepaskan mulutku dari memiaw mamaku, dan aku mulai membuka cd yang kupakai, akupun mulai menggesek-gesekkan tongkolku yang sudah tegang di bibir vagina mamaku, setelah sekian lama, akupun mulai memasukkan tongkolku ke dalam memiaw mamaku. Kali ini tongkolku sangat lancar masuk ke dalam memiaw mamaku. Bles…bles…bless, kupompa terus mamaku dengan gerakan yang semakin lama semakin cepat.

“akh…ah…uh…ahhh..oh…mmhhh…” rintihan dan desahan mamaku semakin kuat, kedua tanganku mulai meremas-remas kedua payudaranya, sambil mulai kucium bibirnya, dan mamakupun membalas ciumanku dengan tidak kalah ganasnya, lidah kami saling bertautan di dalam mulut mamaku. Karena aku sudah mau keluar, kuhentikan penetrasiku di dalam vagina mamaku, sambil masih tetap berciuman, kulepaskan tongkolku dari dalam vagina mamaku, dan akupun menggantinya dengan tangan kananku. Mula-mula kumasukkan 1 jariku ke dalam vaginanya, karena melihat reaksi mamaku masih biasa-biasa saja akupun menambah memasukkan 2 jariku lagi ke dalam vaginanya, sehingga kini tiga jari tengah kananku mulai mengocok bagian dalam memiaw mamaku.

“akh…ah…ah…Son…mmhhh…emhh…adu. .hh…Son…Sony…mama udah ga kuat Son…ahh….” Desah mamaku sambil menggeliat-geliatkan badannya menahan rasa nikmat yang luar biasa, namun aku tak memperdulikan desahan mamaku.
“sabar ya ma, hari ini Sony mau bawa mama ke puncak kenikmatan yang paling tinggi” sahutku, sambil terus mengocok vagina mamaku dengan cepat.

“Son…ahh…ah…auh…oh…son…udah…ud ah…ma…mama…mama uda..h.. ga kuat lagi…aoh…akkkkkhhhhhhhh…..” mamaku mengerang dan mencapai orgasmenya. Untuk sementara waktu, kubiarkan mamaku untuk mengambil nafas dan beristirahat sejenak.Setelah beberapa saat, akupun mulai kembali membuka selangkangan mamaku, dan mulai memasukkan tongkolku yang sudah tegang sejak tadi.

“Son, sudah ah…Mama udah cape nich, Mama udah tua Son, stamina mama juga sudah…akhhh, belum sempat mamaku selesai bicara aku sudah kembali menghujamkan tongkolku ke liang vaginanya, kali ini kumasukkan dengan tempo yang sedikit cepat, kuangkat kaki kiri mamaku, dan kutaruh di pundakku sambil terus kugenjot.

“Akh…emh…emh…ah…oh…akh…uhh…ahh …mama…mama udah mulai ga kuat Son, Son…” desah mamaku
“Sabar…sabar ya Ma, Sony..Sony juga udah mau ke luar ah…ah…ah…bentar lagi Ma” sahutku sambil makin kupercepat pompaanku di dalam memiawnya

Sony…Son…Son…udah…udah Sooooonnn…..akhhhhhhhhhhhh” mamaku menjerit sekerasnya, dan disaat yang bersamaan aku juga berteriak, dan mengeluarkan banyak spermaku di dalam memiaw mamaku.
Kulihat kali ini seluruh tubuh mamaku banjir oleh keringat, demikianpun dengan aku, dan akupun terkulai lemas di sebelah mamaku
.

Dan sejak saat itu, saat aku ada kesempatan berdua dengan mamaku (khususnya di siang hari), aku kembali melakukan hubungan seks dengan mamaku, dan mamaku selalu berusaha dengan baik untuk memenuhi kebutuhanku itu.
CERITA YANG LEBIH SERU KLIK DISINI
Bagi yang ingin mendapatkan uang jutaan dengan sangat mudah anda klik http://www.uangbalik.in/?id=13685870






CERITA SEX TERBARU PENUH SENSASI

CERITA SEX TERBARU PENUH SENSASI  - Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru pulang dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aku.

CERITA SEX TERBARU PENUH SENSASI  - Kalau aku tidak keluar rumah, Idang anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Idang, yang seingatku sudah lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya.

Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah

“Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny teman saya, Tante”. Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny dan langsung aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona saat melihat anak Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.

Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya.

Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir.

Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan memberikan celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.

“Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”. Kami kembali terbahak mendengar kelakar Idang. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini. Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan Idang ini demen menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku tetap “fresh” dan “good looking”. Aku memang suka merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku jalan sama Oke, suamiku, banyak yang mengira aku anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang.

Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua anak ini.

“Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang ‘enggak-enggak’, ya..”, aku tawarkan makan siang pada mereka.

Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku tahu mata Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi. Si Idang ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer aku ke dapur mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu Donny sudah berada di belakangku. Dia menanyaiku, “Tante dulu teman kuliah mamanya Idang, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.

“Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny.
“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.
“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.
“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang”, lanjutnya sambil melototi pahaku.
“Tante hobbynya apa?”.
“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.
“Ooo, pantesan”.
“Apa yang pantesan?”, sergapku.
“Pantesan body Tante masih mulus banget”.

Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk mendapatkan peluang melontarkan kata-kata “body Tante masih mulus banget” pada tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan Donny ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr.., libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aku merasa ada yang bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.

“Ah, mata kamu saja yang keranjang”, jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.
“Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.
“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.
Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.

“Memangnya pinter dengan sendirinya?”, lanjutku yang kepingin terjebak lagi.
“Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.
Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.
“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?”, jawabku lebih progresif.

“Hoo, bener sayang, nih?”, sigap Donny.
“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.
“Sudah sana, temenin si Idang tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.
“Si Idang, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.
“Kalau kamu?”, sergahku kembali.

“Kalau saya, action, Tante sayang”, balas sayangnya.
“Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”, ujarku sambil memukulnya dengan manis.

“Oo, beres, Tante sayang”, dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.
Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.

“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?”.
Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit pinggangnya keras-keras hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya itu. Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia melihat ke mataku. Ah, pandangannya itu membuat aku gemetar. Akankah dia berani berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa aku juga merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?

Aku tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Donny sudah mendarat di bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih kepalanya serta mengelusi rambutnya. Dan tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian meremasi payudaraku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat yang tak terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku.

“Tante, aku nafsu banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body Tante. Aku pengin menjilati body Tante. Aku ingin menjilati nonok Tante. Aku ingin ngentot Tante”. Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok Donny melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng banget.

Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi. Donny mengerang.Dengan tidak sabaran dia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat ke ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku merasakan nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke dadaku.

Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya. Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan kancing-kancing kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aku tak mampu mengelak dan aku memang tak akan mengelak. Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan menghanyutkan aku. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa nikmat birahiku.

Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan kelentitku. Aku jadi ikutan tidak sabar.

“Donny, Tante udah gatal banget, nih”.
“Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan”.
Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku.

“Tante, aku pengin ngentot memek Tante sekarang”. Aku tidak tahu maunya, belum juga aku puas mengulum kontolnya dia angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga nonokku terbuka. Kemudian dia tusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke memekku.

Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak nyenggol-nyenggol aku. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang golflah. Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku. Kini kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti dan semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar lagi spermanya pasti muncrat, sementara aku masih belum sepenuhnya puas dengan entotannya.

Aku harus menunda agar nafsu Donny lebih terarah. Aku cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya, aku berbalik sedikit nungging dengan tanganku bertumpu pada tepian meja. Aku pengin dan mau Donny nembak nonokku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku. Biasanya aku akan cepat orgasme saat dientot suamiku dengan cara ini. Donny tidak perlu menunggu permintaanku yang kedua. kontolnya langsung di desakkan ke mem*kku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu.
Nah, aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap tusukan kont*lnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.

Selintas terpikir olehku, di mana si Idang. Apakah dia masih berkutat dengan komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kont*lnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny berteriak.

“Dang, Idang, ayoo, bantuin aku .., Dang..”.
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny

“Gue kebagian apanya Don?’
“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.
Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.

Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan tenangnya Idang mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa hormat padaku yang adalah teman mamanya itu, untuk kemudian ditariknya mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya. kontol Idang nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung batangnya.

Saat bibirku disentuhkannya aroma kontolnya menyergap hidungku yang langsung membuat aku kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh kegilaan aku lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya. Tangan Idang terus mengendalikan kepalaku mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku memompa, terkadang dia tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau pelirnya agar aku menjilatinya.

Duh, aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa. Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan kontolnya keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah aku mengalami cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki konvensional.

Saat dia menggauliku dia lakukan secara konvensional saja. Sehingga saat aku merasakan bagaimana perbuatan teman dan anak sahabatku ini aku merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat melanda aku. Kini 3 lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka. Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny dan mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kontol Idang.

“Ah, Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku. Enak, kan? Sama kontol Oom enak mana? N’tar Tante pasti minta lagi, nih”.

Dia percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah membusa keluar dai mulutku. kontol Idang sudah sangat kuyup. Sesekali aku berhenti sessat untuk menelan ludahku.

Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, “Aku mau keluar nih, Tante. Keluarin di memok atau mau diisep, nih?”.

Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya, aku buru-buru lepaskan kontol Idang dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat jongkok sambil mengangakan mulutku tepat di ujung kontol Donny yang kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kont*lnya untuk mendorong agar air maninya cepat keluar.

Kudengar mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Tante, minum ya, minum, nih, Tante, minum ya, makan spermaku ya, Tante, makan ya, enak nih, Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..”.

Air mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku. Sebagian lain nampak mengalir di batang dan tangannya. Yang masuk mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula.
Kemudian dengan jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian disodorkannya ke mulutku yang langsung kulumati jari-jarinya itu. Ternyata saat Idang menyaksikan apa yang dikerjakan Donny dia nggak mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kontolnya. Dan beberapa saat sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul kontol Idang memuntahkan banyak spermanya ke mulutku. Aku menerima semuanya seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Idang sangat gurih seperti air kelapa muda.

Dasar anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat aku istirahat mereka mengajak aku ke ranjang pengantinku. Mereka nggak mau tahu kalau aku masih mengagungkan ranjang pengantinku yang hanya Oke saja yang boleh ngentot aku di atasnya. Setengahnya mereka menggelandang aku memaksa menuju kamarku.

Aku ditelentangkannya ke kasur dengan pantatku berada di pinggiran ranjang. Idang menjemput satu tungkai kakiku yang dia angkatnya hingga nempel ke bahunya. Dia tusukan kontolnya yang tidak surut ngacengnya sesudah sedemikian banyak menyemprotkan sperma untuk menyesaki memekku, kemudian dia pompa kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke atas, ke bawah dengan penuh irama.
Aku merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan aku langsung menggelinjang dahsyat. Pantatku naik turun menjemput tusukan-tusukan kontol legit si Idang. Sementara itu Donny menarik tubuhku agar kepalaku bisa menciumi dan mengisap kontolnya. Kami bertiga kembali mengarungi samudra nikmatnya birahi yang nikmatnya tak terperi.

Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Donny. Jilatan lidah dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Donny. Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Donny kuraih ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke kasur dan membuat posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah tangan Donny meraih dan meremasi susu-susu dan pentilku.

Sementara hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku tepat di bawah akar pangkal kontolnya yang keras menggembung. Aku menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil tangan kananku ke atas untuk ngocok kontol Donny. Duh, aku kini tenggelam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Aku menjadi kesetanan menjilati celah pantat Donny.
Aroma yang menusuk dari pantatnya semakin membuat aku liar tak terkendali. Sementara di bawah sana Idang yang rupanya melihat bagaimana aku begitu liar menjilati pantat Donny langsung dengan buasnya menggenjot nonokku. Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,

“Tante, nonokmu enak, Tante, nonokmu aku entot, Tante, nonokmu aku entot, ya, enak, nggak, heh?, Enak ya, kontolku, enak Tante, kontolku?”. Aku juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang sangat dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam kemaluanku.

Aku tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan tanganku pada kontol Donny semakin kencang. Naik-naik pantatku menjemputi kontol Idang semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat.

Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang masih semakin kencang menusukki nonokku. Dan aku memang tahu bahwa Idang juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yang sejak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.

Sementara Donny yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau agar aku mempercepat kocokkan kontolnya sambil tangannya keras-keras meremasi buah dadaku hingga aku merasakan pedihnya. Dan saat puncaknya itu akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku untuk dia kocok sendiri kontolnya dengan kecepatan tinggi hingga spermanya muncrat semburat tumpah ke tubuhku.
Aku yang tetap penasaran, meraih batang yang berkedut-kedut itu untuk kukenyoti, mulutku mengisap-isap cairan maninya hingga akhirnya segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki sperma yang tercecer di tubuhku untuk aku jilat dan isap guna mengurangi dahaga birahiku.

Sore harinya, walaupun aku belum sempat merasakan getuk kirimannya yang kini berada dalam lemari esku dengan penuh semangat dan terima kasih aku menelepon Yenny.
“Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya Yen. Karena sudah lama aku tidak merasakannya, huh, nikmat banget rasanya. Ada gurihnya, ada manisnya, ada legitnya”, kataku sambil selintas mengingat kenikmatan yang aku raih dari Idang anaknya dan Donny temannya.

Yenny tertawa senang sambil menjawab, “Nyindir, ya. Memangnya kerajinan tanduk dari Pucang (sebuah desa di utara Magelang yang menjadi pusat kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu itu. N’tar deh kalau aku pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu”.

Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mati aku, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan getuk kesukaanku.
CERITA YANG LEBIH SERU KLIK DISINI
Bagi yang ingin mendapatkan uang jutaan dengan sangat mudah anda klik http://www.uangbalik.in/?id=13685870





Cerita Sex Karena Gairah Mama Tiriku

Cerita Sex Karena Gairah Mama Tiriku - Ketika Papie menikah lagi dengan gadis bernama Linda yang usianya masih sangat muda itu, Vinnie (adikku) dan Mbak Helen (kakakku) menuduh Papie tidak punya perasaan, menyakiti hati Mamie dan sebagainya. Kedua saudaraku memihak Mamie dan menganggap Papie sebagai ayah tercela. Tapi aku tak mau memihak siapa-siapa. karena Mamie ibuku, tapi Papie juga ayahku.
Cerita Sex Karena Gairah Mama Tiriku - Aku berusaha tetap netral. Aku pernah dikasih tahu oleh Papie, bahwa lelaki dikodratkan berperilaku poligami. Daripada Papie merusak anak orang atau main dengan pelacur, mendingan papie menikah lagi. Rasanya sah-sah saja Papie menikah lagi. Kalau aku sudah tua kelak, mungkin saja aku juga melakukan hal yang sama seperti Papie.


Vinnie dan Mbak Helen tak pernah mau dipertemukan dengan istri muda Papie itu. Tapi aku santai saja, mengikuti kehendak Papie untuk dikenalkan kepada ibu tiriku itu. Di dalam hati, aku malah menganggap Papie hebat karena berhasil mempersunting gadis yang sebaya dengan Mbak Helen itu. Ya, kira-kira istri muda Papie itu berumur 24 tahun. Sedangkan Papie sudah hampir 50 tahun.

Sikap netralku membuat Papie senang. Waktu aku sedang berada di dalam mobil Papie, sepulangnya dari rumah istri mudanya, Papie memujiku. Mengatakan aku sudah berjiwa besar wakaupun usiaku masih muda sekali (18 tahun). Papie memintaku sering mendatangi rumah istri mudanya, sebagai pertanda siapnya diriku menerima wanita muda itu sebagai ibuku yang kedua.

Mama (demikian aku memanggil istri muda Papie) sebenarnya sangat menyenangkan. Perilakunya senantiasa supel dan berusaha bersikap sebagai seorang ibu. Kalau aku mendatangi rumahnya, ia selalu menyuguhkan makanan yang enak-enak untukku. Setiap kali aku mau pulang, ia selalu membekaliku uang jajan yang lumayan besar. Jauh lebih besar daripada uang jajan yang biasa kuterima dari Mamie. Mungkin uang pemberian Mama itu berasal dari Papie juga. Tapi kalau Mama Linda tidak baik hati, toh aku takkan dapat uang jajan darinya.

Papie pun jadi berubah. Setelah menyadari bahwa aku bisa berbaik-baik dengan istri mudanya, Papie jadi sering ngasih duit jajan di belakang Mamie dan saudara-saudaraku. Apakah aku termasuk orang yang mengail di air keruh atau mencari kesempatan dalam kesempitan? Tidak. Aku tak pernah minta duit kepada Papie dan istri mudanya. Semuanya kuperoleh tanpa kuminta. Dan semuanya itu tak pernah kulaporkan kepada Mamie dan saudara-saudaraku. Semuanya itu seolah jadi rahasiaku dengan Papie dan istri mudanya.Dari hari ke hari hubunganku dengan Mama Linda semakin baik. Ia mulai sering memintaku mengantarnya belanja ke mall-mall dan bahkan ke rumah orang tuanya.

Pada mulanya semua itu kuanggap wajar-wajar saja. Tapi kenapa diam-diam di dalam jiwaku terjadi semacam evolusi yang makin lama makin dominan? Kenapa aku makin sering membayangkan yang aneh-aneh waktu sedang membonceng Mama Linda di motorku? Mungkin dia tidak merasakan sesuatu yang aneh, tiap kali kubonceng di motorku, santai saja “ngedeplok” di boncengan sambil memelukku dari belakang. Padahal perasaanku mulai tak menentu waktu kurasakan ada yang empuk-empuk mengganjal di punggungku. Wajarkah kalau aku lalu membayangkan sesuatu yang tak patut singgah dalam jiwaku?

Pada satu saat ia mengajakku makan di foodcourt sebuah mall. Selesai makan ia menyuruhku menunggu sebentar, “Mau beli baju tidur dulu,” katanya. Aku mengangguk sambil meneguk orange juiceku yang belum habis. Setelah ia berlalu, aku dikejutkan oleh teguran dari belakangku, “Lu sudah punya cewek cantik rupanya ya?”
Aku menoleh. Ternyata Deky, teman kuliahku. “Cewek mana?” tanyaku.
“Yang tadi bareng duduk di sini, yang pake blouse putih celana jeans,” kata Deky.
“Gila, itu mama gua!” seruku sambil menonjok perut Deky perlahan.
“Ah, masa sih mama lu segitu mudanya?!”
“My Dad’s second wife, you know?”
“Oooo…begitu toh. Gawat dong. Lama-lama bisa kecantol sama lu. Cocoknya dia jadi cewek lu.”
“Sialan lu ah!” kutonjok lagi perut Deky.
“Hahahaaa…” tawa Deky tergerai, “Just a joke, Hen. Jangan ngambek ah.”

Aku cuma nyengir kuda. Tapi setelah Deky berlalu, aku tercenung sendiri. Kata-kata Deky tadi sugestif banget rasanya. Tak lama kemudian Mama muncul dengan kantong plastik dijinjing di tangan kanan kirinya.
“Yang ini buat kamu Hen,” kata Mama sambil memberikan salah satu kantong plastik itu.
“Apa ini Mam?” tanyaku sambil melihat isi kantong plastik itu. Ternyata sehelai jacket kulit! Pasti mahal harganya.
“Kamu kan pake motor tiap hari. Biar nggak masuk angin, pake jacket itu,” kata Mama dengan senyum lembut.
“Makasih Mam,” sambutku, “Mama baik sekali…”
Aku lalu teringat Mamie. Rasanya perhatian Mamie, ibu kandungku, tidak sebanyak ibu tiriku. Terasa banyak sekali pemberian Mama setelah aku sering bareng dengannya.

Namun hari demi hari yang kulewati terasa menayangkan khayalan-khayalan aneh terus. Apakah khayalan-khayalan yang merajalela di diriku ini muncul dari otak kotor, ataukah memang situasinya yang memaksaku untuk berkhayal seperti itu? Ya…aku jadi merasa senang jika berdekatan dengan ibu tiriku yang terlalu muda itu (hanya beda 6 tahun denganku). Sudut mataku mulai sering memperhatikan kecantikan wajah dan kebahenolan tubuhnya. Wajahnya mirip penyiar (tak usah kusebut namanya) yang kuanggap paling cantik di TVRI pusat. Kulitnya kuning cemerlang. Tubuhnya tinggi berisi. Pinggangnya kecil, tapi toket dan pinggulnya besar. Pokoknya dia typeku.

Tapi dia milik Papie! Papie yang sangat menyayangiku! Apakah aku tergolong anak durhaka kalau menyukai milik ayah tercintaku?
Dan pada suatu malam aku bermimpi memalukan. Mimpi bersetubuh dengan ibu tiriku. Rasanya nikmat sekali. Dan esok paginya terasa celanaku basah! Aku malu sendiri kalau ingat semuanya itu. Kejadian itu membuatku bertanya-tanya di dalam hati, apakah jiwaku sudah demikian parahnya sehingga aku sampai bermimpikan yang seperti itu? Kalau Mama tau aku sudah bermimpi seperti itu, apakah dia akan marah dan merasa jijik berdekatan denganku?Entahlah. Yang jelas sikapku tetap sopan kepada ibu tiriku. Bahkan lebih sopan daripada sikapku kepada Mamie. Namun…andai Mama tahu pikiran di balik sikap sopanku ini…ah, entah apa jadinya
.

Hari demi hari kujalani terus tanpa kejadian yang berarti, kecuali khayalanku ini tetap saja tak mau ditindas. Tetap saja bergeliang geliut di dalam batinku. Sampai pada suatu hari, Mama menelepon ke hpku. Biasa, minta diantar belanja ke mall. Aku langsung mengiyakan, karena aku pas mau pulang dari kampus. Tapi aku pulang ke rumah dulu. Mandi sebersih mungkin. Lalu bilang ke Mamie “Mau ke rumah teman.” Yang dijawab dengan anggukan Mamie.

Tiba di rumah istri muda Papie, kudapati pintu depan tidak dikunci. Seperti biasa, aku masuk saja ke dalam. Terdengar suara orang mandi. Terdengar juga suara Mama berseru dari dalam kamar mandi, “Siapa itu? Hendri?!”
“Iya Mam,” sahutku keras juga supaya terdengar ke dalam kamar mandi.
“Tunggu sebentar ya. Mama mandi dulu!”
“Iya Mam!” seruku sambil duduk di sofa ruang keluarga.

Tak lama kemudian kulihat dia keluar dari kamar mandi. Sehelai kimono sutra putih bercorak kembang merah muda membungkus tubuh mulusnya. Kepalanya dibalut dengan handuk, mungkin karena habis keramas.
“Sangkain nggak secepat ini kamu datang Hen,” katanya sambil melangkah menuju pintu kamarnya.
Seperti dihipnotis, aku bangkit. Memperhatikan cantiknya ibu tiriku meski cuma mengenakan kimono. Tak sadar aku memandangnya terlalu lama dan seperti tak berkedip.
“Kenapa Hen?” ia tertegun menatapku.
“Ng…nggak…cuman mau bilang….Mama cantik sekali pake kimono itu…” sahutku terlontar begitu saja. Rasanya baru sekali itu aku terang-terangan memuji kecantikannya.
“Masa sih?!” dia malah menghampiriku, “cantik mana sama pacar kamu?”
“Saya belum punya pacar, Mam,” sahutku grogi karena ia memegang pergelangan tangan kiriku.

“Masa sih cowok setampan kamu belum punya pacar?!” Mama mencubit pipiku, lalu melangkah ke arah kamarnya. Meninggalkan diriku dalam sejuta kembang harapan. Benarkah aku tampan di matanya? Ataukah ia cuma ingin menyenangkan hatiku saja?
Aku terduduk di sofa. Lagi-lagi benakku digeluti pikiran tak menentu. Dan tiba-tiba kudengar suara Mama memanggilku dari dalam kamarnya.

“Ya Mam…” aku menghampiri pintu kamar Mama yang tidak tertutup rapat, lalu kuberanikan diri membukanya dan berdiri di ambang pintu itu. Kulihat ia duduk di kursi depan meja rias, tangan kirinya memegang gaun terusan, tangan kanannya memegang celana jeans dan t-shirt biru muda.
“Masuk aja Hen,” katanya datar seperti tiada sesuatu yang tak wajar (seperti seorang ibu menyuruh anaknya masuk ke kamarnya), padahal aku mulai tergiur melihat pahanya yang begitu mulus tersembul dari belahan kimononya, “Mending pake celana jeans ini apa mending pake gaun ini Hen?”

Mendengar undangannya, aku masuk ke dalam. “Dua-duanya bagus. Tapi Mama kan mau dibonceng di motor saya. Mungkin kalau pake gaun malah ribet. Duduknya harus miring,” kataku sambil duduk di pinggiran tempat tidurnya.
“Iya ya,” ia mengangguk-angguk sambil tersenyum manis, “minta mobil dong sama Papie, biar kalau ikut kamu bisa pake gaun.”
“Mama aja yang minta, biar saya yang nyetir nanti. Kalau saya dikasih mobil, huuhh…Mbak Helen sama Vinnie pasti ngiri.”
“Nggak enak Hen. Nanti disangkanya mama cewek matre. Mmm…kamu nggak ada acara apa-apa sore ini?”
“Nggak ada. Pulang malem juga nggak apa-apa. Mau ngajak nonton bioskop Mam?”

“Nggak ah. Mau nonton sih puter DVD aja di sini, ngapain jauh-jauh ke bioskop? Eh…Papie mau seminggu di luar kotanya ya?”
“Katanya sih begitu,” kataku yang lalu teringat bahwa Papie baru berangkat tadi pagi, mau ngurus bisnisnya di Jateng.
“Mmm…mama pake ini aja Hen?” tanyanya sambil mengangkat celana jeans dan t-shirt biru mudanya.
“Iya Mam. Kalau nggak takut diketawain sih mending pake kimono itu aja. Dengan kimono itu Mama kelihatan seksi banget. Eh…maaf Mam…”

Aku merasa kelepasan bicara, mengucapkan kata “seksi” segala. Tapi dia tidak marah. Dia malah meletakkan gaun dan celana jeans dan t-shirt biru mudanya di meja rias. Lalu menghampiriku sambil merentangkan kedua lengannya….dengan senyum mengundang di bibirnya. Aku jadi bingung, mau apa dia dengan sikap seperti itu?
“Bener mama ini cantik Hen?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
“Sumpah!” aku mengangkat dua jari kananku, “Mama bener-bener cantik. Papie hebat bisa dapetin Mama.”
“Kamu bisa aja muji-muji. Coba cium Mama, mau nggak?”


Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan ibu tiriku ini. Namun jelas, bibir tipis mungil itu sedang menghampiri bibirku. Lalu entah bagaimana mulainya, tahu-tahu aku sudah terlentang dihimpit Mama yang telungkup di atas tubuhku. Aku juga tidak tahu bagaimana mulainya, tahu-tahu bibirku sudah saling lumat dengan bibir ibu tiriku yang cantik dan bahenol itu.

Apakah dia juga membutuhkanku seperti aku yang terus-terusan melamunkannya? Entahlah. Yang jelas Mama ciuman dan lumatan Mama terasa begini hangatnya, membuatku jadi tak mau cepat-cepat melepaskan pertemuan lidah dan dua pasang bibir . Bahkan kemudian kutemukan kenyataan baru. Bahwa dekapanku di pinggang Mama membuat kimono itu tertarik sedikit demi sedikit. Dan waktu tanganku turun, kusentuh buah pinggul yang besar dan kencang. Telapak tanganku bersentuhan langsung dengan kulit buah pinggul Mama. Masih waktu saling lumat, tanganku diam-diam menjelajah. Lalu kutemukan suatu kenyataan edan, yang membuat jantung berdegup kencang, yang membuat darahku berdesir-desir….ooh….istri muda Papie ini tidak mengenakan celana dalam! Ya, tanganku tidak menemukan celana dalam. Apakah ini suatu kebetulan, ataukah memang sudah dipersiapkan?

Jangan berpikir terlalu jauh dulu. Bukankah Mama baru habis mandi? Wajar saja kalau ia belum mengenakan celana dalam di balik kimononya. Tapi…mengelus dan meremas buah pinggul Mama tanpa batasan sehelai benang pun ini, membuat jantungku berdegup kencang. Nafasku pun jadi tak beraturan lagi. Terlebih ketika Mama berguling sambil mendekapku, sehingga tubuhku jadi di atas tubuhnya. Dan…belahan kimono di bagian dadanya terbuka, sehingga toket montoknya terbuka. Ternyata payudara montok dengan puting kemerahan menantang itu tidak mengenakan beha! Tidak ada apa-apa lagi di balik kimono itu selain tubuh Mama yang harum dan padat dan hangat itu!

Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lumatanku pindah, dari bibir Mama ke lehernya. Kujilati lehernya dengan penuh nafsu, sehingga ia menggeliat-geliat. Lalu mulutku turun ke bagian dada yang terbuka itu. Kukecup puting buah dada yang menantang itu, selanjutnya bukan cuma kukecup melainkan juga kukulum dan kusedot-sedot, sementara ujung lidahku bergerak-gerak menjilati pentil tetek yang ranum itu.

Lalu terdengar suara Mama di antara deru nafasnya yang memburu, “Hen…mama jadi pengen…”
“Saya juga pengen,” sahutku yang tengah asyik menjilati puting payudara Mama, “boleh Mam?”
Lalu kudengar suara Mama di puncak kepasrahannya, “Iya Hen…lakukanlah…malam ini sekujur tubuh mama jadi milikmu, Hen…” Mama mengakhiri ucapannya dengan pelepasan ikatan tali kimononya. Maka tampaklah sebentuk tubuh yang mulus dan sempurna di mataku. Meski kimononya belum dilepas total, bagian depan tubuh Mama sudah sepenuhnya terbuka.
“Tubuh Mama mulus sekali,” gumamku sambil mengelus perut Mama.

Mama cuma tersenyum manis.Aku tak mau berbasa-basi dan buang-buang waktu lagi. Kuciumi leher Mama yang hangat…ciumanku lalu menjadi jilatan penuh gairah…jilatan pun tak diam di leher Mama. Jilatanku mulai membasahi buah dada Mama….pusar perutnya juga…lalu menurun lagi ke arah selangkangannya…wow, bulu kemaluan Mama lebat sekali! Aku suka! Dan lidahku mulai menyibakkan jembut Mama, sehingga kemaluannya mulai tampak jelas…jelas sekali. Lalu dengan ganas kuciumi kemaluan Mama dengan penuh nafsu. Tiada bau sedikit pun. Mungkin Mama selalu menjaga vaginanya agar tetap hygienis. Apalagi tadi dia kan baru mandi.

Mama merentangkan kedua pahanya, sehingga aku makin rakus menjilati vaginanya.Mama menggeliat-geliat sambil mengelus rambutku diiringi elahan nafasnya yang memburu dan rintihan-rintihan histerisnya yang semakin merangsang nafsu birahiku.
“Mulai aja Hen…mama udah gak tahan nih…” pinta Mama pada satu saat.
“Iya Mam,” kataku bernada anak yang patuh. Sambil bertekuk lutut di antara kedua kaki Mama, kulepaskan kaus dan celana jeansku. Mama memperhatikanku dengan senyum yang…ah…manis sekali senyum itu. Lalu kulepaskan CDku. Mama melotot, seperti tak mau berkedip waktu pandangannya terarah ke batang kemaluanku yang sudah sangat ngaceng ini.

“Hen…pe…penismu kok besar sekali? Jauh lebih besar daripada punya Papie….!” Mama bangkit dan memegang batang kemaluanku, terasa gemetaran tangan Mama saat itu. Aku cuma menanggapinya dengan senyum, sambil menanggalkan kimononya yang sudah hampir terlepas dari tubuh sempulur itu.

“Gak salah ni Hen?” Mama mengelus-eluskan penisku ke pipinya, “Punya anaknya malah jauh lebih gede dan panjang daripada punya ayahnya?!”
“Kenapa Mam? Takut?” bisikku sambil mendorong dadanya dengan lembut, lalu menghimpitnya setelah ia terlentang merangsang.
Mama memelukku dengan sikap gemas, “Iya takut. Takut ketagihan, sayang,” bisiknya sambil mencubit hidungku.
“Mama tau gak? Beberapa hari yang lalu saya sampai mimpi beginian sama Mama…sampai basah Mam…” kataku sambil mengelus buah dada Mama yang benar-benar terawat, benar-benar masih kencang.

“Masa?!” Mama menatapku dengan mata bergoyang indah, “Tapi mama emang sudah nyangka, kamu punya perhatian khusus sama mama. Dan mama juga sebenarnya…yah… terus terang saja mama juga sering melamunkan kesempatan seperti ini.” Mama memegang leher penisku, mengatur posisinya sedemikian rupa sehingga terasa puncak penisku sudah bertempelan dengan mulut vagina Mama yang sudah kubikin basah tadi.Tanpa menunggu komando lagi kudorong penisku kuat-kuat, sehingga Mama menyeringai dan merintih, “Sedikit-sedikit dulu sayang….jangan disekaliguskan….”

Aku mengerti apa yang Mama maksudkan, karena di kampus aku sering bertukar pikiran dengan teman-teman yang sudah berpengalaman dalam soal sex. Maka sambil menekan penisku, aku pun berusaha memompakannya sedikit demi sedikit. Gerakan yang tidak terlalu dipaksakan ini penting, kata temanku, supaya perempuannya tidak kesakitan.Dan…makin lama penisku makin jauh bergerak-gerak di dalam vagina ibu tiriku.

“Duuuh….sudah masuk semua sayang….duuuh…punyamu kok panjang gede gini…ooooh…..enak sekali, Hen….hsssshhhhh…..ooooh……iya Hen….terus Hen….terus sayang….adududuuuuhhhhhh…..punya kamu kok enak sekali sayang….” Mama tak henti-hentinya menyeracau ketika aku mulai gencar mengenjot liang memeknya yang…ah… enaknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.Aku pernah bersenggama dengan Mbak Suzan yang dahulu kost di rumahku. Tapi rasanya tidak senikmat dengan Mama ini. Mungkin karena jepitan liang vagina Mama terasa sekali waktu bergesekan dengan penisku. Bahkan nikmatnya semakin menggila ketika pantat Mama mulai bergoyang-goyang erotis…benar-benar membuatku edan eling dalam dekapan hangatnya.

Tapi berbeda dengan Mama yang erangan histerisnya tiada henti-henti, aku cuma berdengus-dengus seperti kerbau sedang disembelih. Terkadang suara kami hilang, karena kami sedang berciuman, tepatnya sedang saling lumat. Ludah kami sudah bertukar-tukar, tanpa merasa jijik sedikit pun. Sementara tanganku asyik meremas sepasang payudara Mama, terkadang kuselomoti, kujilati dan kuhisap-hisap juga.

Dalam keadan senikmat ini aku benar-benar lupa daratan. Tak peduli lagi bertukar air ludah dengan Mama, bahkan terkadang lidahku menjilati leher Mama yang mulai keringatan dan menjilati ketiak Mama tanpa merasa ragu sedikit pun. Semua itu justru membuat Mama makin merem-melek, rintihan histerisnya pun makin menjadi-jadi.

Bahkan suatu saat kudengar suara Mama terengah-engah, “Heeen….oooo…oooh…mama sudah mau keluar, sayang……cepatkan enjotannya….oooh….penismu luar biasa enaknya sayang…..aaaah….mama pasti ketagihan nanti…….ooooh….mama keluar Heeeeeennnnn…hssssshhhhhhhhhhhhhh……..”

Mama berkelojotan dalam himpitanku, lalu terasa liang vaginanya mengejut-ngejut, nikmat sekali merasakan Mama sedang orgasme. Liang vaginanya terasa jadi becek. Tapi beceknya ini justru yang kurasakan nikmat sekali. Karena itu berarti bahwa Mama sudah mencapai kepuasan pertama akibat enjotan kontolku. Maka kucium lagi bibirnya dengan mesra sambil membiarkan batang kemaluanku terdiam di dalam liang surgawi Mama.

Apakah karena persetubuhanku dengan Mama terjadi di usia yang sudah tergolong baligh, atau karena Mama lebih cantik daripada Mbak Suzan, entahlah. Yang jelas, ketika Mama sedang mencapai orgasme, ciuman kami terasa mesra sekali. Seperti sepasang manusia yang saling mencintai.

Setelah terasa Mama sudah selesai orgasmenya, aku mulai lagi mengayun batang kemaluanku sambil berbisik, “Mama…duh…memek Mama kok enak sekali sih?”
“Kamu juga Hen…mama nggak nyangka bisa mendapatkan kepuasan yang luar biasa begini. Kalau besok-besok mama ketagihan gimana ayo?” Mama membuka matanya dan tersenyum manis…senyum seorang wanita yang telah dipuasi hasrat seksualnya.
”Gampang Mam. Tinggal SMS aja, saya pasti datang.”
“Bener nih? Janji ya!”
“Janji Mam. Malah mungkin tanpa dipanggil pun saya akan datang kalau lagi kepengen.”

Lalu ia terdiam. Mungkin karena sedang merasakan nikmatnya enjotan penisku yang belum ejakulasi ini.
“Gantian yuk, sekarang kamu di bawah, tapi kontol kamu jangan sampai lepas dari memek mama,” kata Mama sambil mengajak berguling ke kiri, sampai posisiku jadi di bawah sementara Mama jadi di atas. Kontolku memang diupayakan jangan sampai tercabut dari dalam memek Mama.Selanjutnya Mama yang bergerak aktif, menaikturunkan pantatnya, sehingga jepitan liang memeknya terasa membesot-besot batang kemaluanku. Dalam posisi seperti ini tanganku jadi bebas meremas-remas buah pinggul Mama.

Terdengar lagi Mama merengek-rengek histeris dan erotis. Dan ayunan pantatnya semakin gencar, sehingga pergesekan liang memeknya dengan kontolku menimbulkan bunyi khas, kcprak…kcprrek…kcprruk…kcprakkk….wow, nikmatnya!
Cukup lama kami melakukan semuanya ini, sampai keringatku membanjiri tubuhku dan tubuh Mama…dan akhirnya kudengar Mama berdesah, “Hssssh….aaaah….mama mau keluar lagi Hen…”
“Sa…saya juga mau keluar,” sahutku yang memang tak kuat lagi mempertahankan kenikmatan ini.
“Ayo kita barengin keluarnya, biar nikmat…” ajak Mama sambil mempergila ayunan pantatnya, sehingga kontolku terasa dipilin-pilin oleh liang memek Mama.
“Dududuhh…Mama….ini enak sekali Mam….duduuuuhhh….aaaaah…..” cetusku terlontar begitu saja ketika hampir tiba di puncak kenikmatanku.

“He…eh…Hen…mama juga belum pernah ngerasa seenak ini….ooooh…Heeen….mama udah sampai….” Mama berkelojotan di atas tubuhku sambil meremas-remas rambutku. Pada saat yang sama aku pun berdengus sambil mencengkram punggung Mama kuat-kuat. Lalu kurasakan penisku memancarkan air mani berkali-kali …creeet….croooot…. creeet…. creeet….entah berapa kali penisku mengejut-ngejut di dalam liang memek Mama.Mama mencium bibirku, lalu berbisik, “Terima kasih sayang…enak sekali.”
“Saya yang harus bilang terima kasih. Barusan fantastis sekali…” kataku sambil membiarkan Mama tetap berada di atas tubuhku, membiarkan liang memeknya tetap “mengepal” batang kemaluanku.
“Kamu pernah beginian sama cewek lain?” tanya Mama tiba-tiba.

“Belum pernah,” sahutku berdusta. Padahal aku sudah sering melakukannya dengan Mbak Suzan dahulu.
“Tapi kamu kuat bertahan,” kata Mama dengan tatapan penuh selidik, “biasanya kalau pertama kalinya sebentar juga udah meletus.”

Aku bingung menjawabnya. Tapi tiba-tiba saja aku mendapat akal. Lalu kataku, “Kalau onani saya sering melakukannya, Mam. Sejak masih di SMA saya suka onani, kan nggak apa-apa?!”
“O pantesan…yayaya…daripada main sama pelacur, mendingan juga dikocok sendiri, biar jangan ketularan penyakit kotor. Apalagi zaman sekarang ada HIV-AIDS…gak ada obatnya…kalau sudah ketularan, tinggal nunggu kematian aja.” Mama bergerak menarik liang memeknya sampai kontolku terlepas dari cengkeraman liang surgawi itu.


“Belanjanya jadi Mam?” tanyaku sambil memperhatikan memek Mama yang baru saja membuatku nikmat setengah mati. Tampak air maniku meleleh ke arah anusnya.
“Nggak ah. Lemes…gila…memek mama seperti jebol saking gede dan panjangnya punya kamu Hen…” kata Mama sambil mengambil handuk kecil dari lemarinya, lalu mengelap memeknya. Setelah itu Mama menghampiriku. Dengan senyum manis Mama mengelap batang kemaluanku yang berlepotan air maniku bercampur lendir memek Mama.

Tapi perlakuan Mama yang dengan telaten mengelap batang kemaluanku, justru membangkitkan lagi nafsu birahiku. Ketika Mama merebahkan diri di sisiku, dalam keadaan masih telanjang, aku bangkit, duduk bersila sambil mengelus perut dan buah dada Mama yang montok merangsang itu. Dan ketika kuelus memeknya yang berbulu lebat itu, Mama diam saja. Mama tidak tahu bahwa penisku sudah ereksi lagi.Lalu dengan hati-hati aku merangkak ke atas tubuh Mama, sambil memegang kontolku yang sudah ngaceng lagi dan kuarahkan ke memek Mama.

Mama tercengang setelah menyadari hal ini, “Kamu sudah mau lagi?”
“Iya Mam…kesempatan yang langka ini tidak akan saya sia-siakan,” sahutku sambil menempelkan puncak kontolku pada arah yang tepat, “Nggak apa-apa kan Mam?”
“Lakukan apa pun yang bisa bikin kamu puas. Kan mama sayang kamu,” kata Mama sambil memegang leher penisku dan membantu mengarahkannya pada sasaran yang tepat.
Aku bermaksud mendesakkan penisku yang terasa sudah tepat letaknya. Tapi tiba-tiba Mama bertanya, “Mau coba posisi doggy?”
“Boleh,” sahutku patuh.

Kemudian Mama merangkak, lututnya menahan tubuhnya, sepasang siku tangannya juga menekan kasur, sementara pantatnya ditunggingkan ke atas, sehingga liang anusnya tampak lebih jelas di mataku. Tapi sasaranku adalah lubang di bawah anus itu. Lubang yang dirimbuni rambut lebat dan keriting itu.

Sambil berlutut di kasur, tepat di belakang pantat Mama, aku mencolek-colek sebentar, mencari lubang surgawi yang akan kucoblos itu. Ketemu dengan mudah. Lalu puncak zakarku kuletakkan di mulut memek Mama. Dengan tangan kirinya Mama membantu memegang penisku, sehingga aku tinggal mendorong saja sambil berpegangan ke pinggang Mama.

Blesss…. batang penisku mulai membenam…kutarik dulu sedikit, lalu kubenamkan lagi. Ya, aku mulai lagi mengentot Mama sambil berlutut di belakang pantatnya. Tanganku berpegangan ke pinggang Mama. Tapi tangan kiriku ditarik oleh tangan kiri Mama, lalu jari tengahku dipegang oleh Mama dan dieluskan ke kelentitnya. Aku mengerti maksud Mama. Bahwa sambil memompakan penisku, jari tangan kiriku harus mengelus-elus clitoris Mama. Dengan suka hati kulakukan keinginan ibu tiriku yang jelita itu.
“E…enak Hen?” tanya Mama dengan suara tersendat.
“Enak Mam. Fantastis…hhhh….” sahutku terengah juga karena sedang berlutut sambil mengentot Mama dan mengelus-elus kelentitnya.

Terkadang tanganku menjelajah, berusaha menjamah sejauh mungkin. Sambil membungkuk aku berhasil menjangkau payudara Mama, lalu meremas-remasnya dengan gerakan penis makin gencar….maju mundur…maju mundur….sehingga terdengar lagi bunyi kecipak-kecipak yang lucu itu….crrreeeekkkk….crroookkkk….creeekhhh… crokkkk…diiringi erangan-erangan histeris ibu tiriku….Heeen….oooh…Heeenn….iya Heen…ini enak sekali sayang….oooohhh…ooohhh….Heeennnnn….oooohhh ….Heeen…

Aku pun mulai berdengus-dengus. Terkadang lututku gemetaran karena sulit menahan nikmatnya ngentot istri muda ayahku ini.
Tapi hanya belasan menit Mama bisa bertahan dalam posisi seperti ini. Lalu ia mengejang lagi di puncak orgasmenya. Ia ambruk telungkup, sehingga penisku terlepas dari genggaman liang surgawinya. Lalu ia telentang sambil merentangkan kedua kakinya. Aku mengerti bahwa ia mempersilakanku melanjutkan dengan posisi biasa. Maka sambil merangkak ke atas tubuhnya, kupegang penisku dan kutempelkan lagi ke mulut vaginanya. Kemudian kudesakkan lagi penisku….blessss….agak mudah penisku membenam ke dalam liang memek Mama, karena masih basah dengan lendirnya sendiri. Aku mulai lagi mengayun batang kemaluanku, dorong tarik, dorong tarik….

Mama mendekapku lagi dengan hangat. Bahkan sempat berbisik, “Ukuran punyamu terlalu besar, sayang. Mama nggak tahan lama-lama….”
“Jangan terlalu dipaksakan,” sahutku, “kalau Mama pengen istirahat dulu, istirahat aja.”
“Hush…bukan pengen istirahat, sayang. Maksud mama, nggak kuat lama-lama nahan orgasme. Nih…sebentar juga pasti orga lagi….aaaah…..gak nyangka punyamu malah lebih jangkung gede daripada punya ayahmu….”
“Saya juga nggak nyangka kalau mimpi itu akan menjadi kenyataan….aaaah….”
“Mimpinya gimana Hen?” tanya Mama sambil mengelus-elus rambutku.
“Dalam mimpi itu, Mama lagi mandi, saya masuk ke kamar mandi yang tidak terkunci…”
“Terus?”
“Saya….saya perkosa Mama….Mama jerit-jerit, tapi saya nggak peduli…tahu-tahu celana saya basah…”
“Ternyata mama nggak perlu diperkosa kan?” bisik Mama sambil menggelitik pinggangku, “kalau kamu lagi kepengen, minta aja terang-terangan…asal jangan ketahuan Papie aja…”

Mendengar kata “Papie”, batinku serasa terhempas. Oh, Papie…maafkan anakmu ini…ampuni aku Papie….aku sedang mencuri milik Papie yang sangat berharga ini….!

Ada rasa bersalah di hatiku. Tapi aku tak menghentikan enjotanku. Malah makin gencar kugeser-geserkan batang kemaluanku yang sedang dicengkram oleh liang surgawi ibu tiriku.Mama pun merintih-rintih histeris lagi. Bahkan terdengar suaranya setengah meraung. Sehingga terpaksa kusumpal mulutnya dengan ciuman dan lumatan, supaya suaranya tidak terdengar ke luar.
Kedua tanganku juga tak mau diam. Di tengah persetubuhan yang sangat bergairah itu aku masih sempat menjelajahkan tanganku untuk meremas-remas paha Mama yang sering terangkat ke atas. Sampai akhirnya kurasakan goyangan pantat Mama mulai menggila, meliuk-liuk edan….lebih erotis daripada penari perut dari Timur Tengah. Ini membuatku seperti ditarik ke puncak kenikmatan yang luar biasa. Ya, sudah ada tanda-tanda bahwa aku akan mencapai titik ejakulasi.

“Saya mau keluar Mam….” bisikku terengah.
“Mama juga mau orga, sayang….oooh….kita barengin lagi keluarnya yuk…..”
“I…iya Mam…..”

Lalu terjadi lagi pencapaian puncak kenikmatan kami secara bersamaan. Terasa lagi Mama mencengkram bahuku, malah terasa mencakar-cakar, justru pada saat aku sedang mendesakkan batang kemaluanku sekuat-kuatnya.
Bhlaaaaaarrrrrrr……!
Meletuslah lahar kenikmatanku, menyembur-nyembur di dalam liang memek Mama yang terasa menyambut dengan kedutan-kedutan misterius.
O, nikmatnya persetubuhan ini….sulit kulukiskan dengan kata-kata.

“Kayaknya saya akan ketagihan nih,” kataku setelah rebah di sisi Mama dalam keadaan sama-sama telanjang bulat.
“Gampang, kan tadi udah dibilang, tinggal kirim SMS aja. Tapi harus pake kode-kode yang cuma dimengerti oleh kita berdua. Jangan terang-terangan. Takut ketahuan Papie kan bahaya,” kata Mama sambil bangkit dari tempat tidur lalu melangkah ke kamar mandi.Terdengar bunyi air berkecipak-kecipak seperti orang sedang cebok. Mungkin Mama sedang membersihkan memeknya yang berlepotan air maniku.


Setelah Mama keluar, giliran aku yang masuk ke kamar mandi, karena kepengen pipis sekalian mau mencuci penisku. Kata teman yang di fakultas kedokteran, sebaiknya cowok kencing setelah bersenggama, lalu penisnya dicuci sampai bersih.Waktu kembali ke kamar Mama, kulihat Mama sedang mengganti kain seprai, karena yang tadi kusut sekali. Sarung-sarung bantal pun diganti dengan yang baru. Kemudian Mama menyemprotkan parfum di sana-sini, sehingga kamar ini jadi harum.Tampaknya Mama sangat menjaga kebersihan dan kerapian. Tiap sudut rumahnya ditata dengan rapi dan bersih.

Takut mengganggu Mama yang sedang merapikan kamar, aku pergi ke ruang keluarga. Lalu kuhidupkan TV. Tidak ada acara yang menarik. Tapi kutonton juga acara komedi dari salah satu pemancar TV favoritku, sambil duduk melepaskan lelah di sofa panjang. Tak lama kemudian Mama muncul, dalam gaun tidur putih dan tipis transparant. Tubuh seksinya tampak membayang di balik gaun tidur itu.

“Malam ini tidur di sini aja ya,” kata Mama sambil duduk merapat di sisi kananku.
“Iya,” aku mengangguk, “saya pun berat ninggalin Mama…entah kenapa…saya jadi merasa…merasa tak mau berjauhan lagi sama Mama.”
“Mama juga sama, sayang,” Mama mengecup pipiku, lalu memeluk pinggangku sambil menempelkan pipinya ke pipiku.
“Kalau saya jatuh cinta sama Mama gimana?” tanyaku sambil membiarkan Mama merebahkan kepalanya di pangkuanku.
“Kamu sangka mama nggak cinta sama kamu? Bukan kalau-kalau lagi Hen. Mama cinta kamu, mangkanya mama kasih semuanya. Mama bukan pelacur yang serampangan ngasih tubuhnya kepada siapa saja. Mama hanya akan memberikan tubuh mama kepada laki-laki yang mama cintai.”

“Tapi Papie….”
“…Sudahlah jangan bahas masalah Papie. Yang penting kita harus pandai-pandai menyembunyikan hubungan kita.”
“Mama cinta Papie juga kan?”
“Mama sayang sama Papie. Dia sudah banyak sekali menolong mama dari kesulitan-kesulitan. Nanti baca deh buku harian Mama….”
Mama terdiam sesaat. Lalu berkata lirih, “Kalau kamu cinta mama, oh…mama bersukur sekali. Berarti kebutuhan Mama sudah lengkap, untuk mendapatkan kasih sayang mama dapatkan dari Papie, untuk mendapatkan cinta…bisa mama dapatkan darimu kan sayang?”

“Iya Mama,” aku mengangguk pasti, “walaupun saya sudah kawin kelak, saya tidak akan meninggalkan Mama. Tapi itu kan masih jauh…sekarang kan kuliah juga masih di dasarnya.”

Mama yang kepalanya masih rebah di atas pangkuanku, tiba-tiba menggerakkan tangannya, menarik ritsliting celana jeansku. Lalu tangan satunya lagi menyelinap ke balik celana dalamku. Menggenggam penisku yang masih lemas. Aku pun tak mau kalah. Tanganku menyelinap ke balik gaun tidurnya, merayap dan meremas pahanya yang licin dan hangat. Merayap-rayap makin ke atas sampai akhirnya menyentuh kemaluannya yang berbulu sangat lebat itu.Aku mulai asyik membelai jembut Mama, lalu jemariku mulai mengelus celah vaginanya yang sudah agak basah dan hangat. Sementara Mama mulai meremas penisku dengan remasan lembut yang membuatku jadi bergairah lagi. Penisku mulai mengeras di dalam remasan Mama.

“Malam ini kuat berapa kali main sama mama?” tanya Mama sambil melayangkan senyum dan pandangan menggoda.
“Nggak tau Mam, saya kan belum pengalaman,” sahutku berbohong. Padahal aku tahu pasti, bahwa aku pernah bersetubuh sampai 5 kali dalam semalam.
“Hmm…sudah keras lagi,” kata Mama sambil bangkit. Penisku disembulkan dari celanaku. Ia pun menyingkapkan gaun tidurnya. Lalu ia menduduki pahaku dengan posisi membelakangiku, sambil berusaha memasukkan kontolku ke dalam liang memeknya.
Pantat Mama menurun, liang vaginanya terasa mendesak puncak penisku. Blessss….penisku masuk lagi ke liang vagina ibu tiriku yang cantik itu. Aku pun memeluk pinggangnya waktu ia mulai menggerak-gerakkan pantatnya naik turun, sehingga penisku mulai dibesot-besot lagi oleh cengkeraman liang surgawinya yang licin dan hangat.

“Buka aja gaunnya biar leluasa ya,” bisikku.
Mama mengangguk. Lalu kutarik gaun tidurnya ke atas. Sepasang tangan Mama teracung ke atas untuk memudahkanku melepaskan gaun tidurnya. Terlepas sudah gaun tidur itu. Sehingga bagian belakang tubuh Mama tak tertutup apa-apa lagi. Aku bersandar di sofa yang sedang kududuki, sementara Mama tetap duduk di pangkuanku dalam posisi membelakangiku. Kami sama-sama menghadap ke layar TV. Tapi kami bukan tengah menonton TV.

Mama mulai aktif lagi menggerak-gerakkan pantatnya, sambil duduk dalam dekapanku. Aku pun mulai leluasa untuk meremas-remas buah dadanya dari belakang, sambil menciumi kuduknya.Mama mendesah-desah lagi, pasti karena sedang mengalami nikmatnya gesekan liang memeknya dengan penisku.

“Aduuhhuhuhhhhh…punyamu terlalu besar, sayang. Bikin mama cepet nyampe….hssssh….hsssshhhhhhhh…..aaaaahhhhh…..sssss sshhhhhhh…” Mama menaikturunkan pinggulnya sambil meliuk-liuk, mungkin supaya clitorisnya lebih kuat bergesekan dengan penisku.Dan akhirnya Mama orgasme lagi.
CERITA YANG LEBIH SERU KLIK DISINI


11 komentar:

  1. Balasan
  2. sekedar info buat anda yang pencinta togel
    jika anda butuh angka jitu goib hasil ritual
    2D 3D 4D husus di putaran SGP/HKG/MALAYSIA
    mau tau caranya cukup anda kelik di

    1. www.cariuwangcepat.blogspot.com atau di
    2. www.dukunsaktimandraguna.blogspot.com
    3. www.vimavteradisional.blogspot.com
    4. atau hub di 0852-8122-0019

    ini nyata bukan rekayasa sudah terbukti kepada
    banyak orang bagi anda yang berminat silahkan anda
    buktikan sendiri jangan mau di cerakan termakasih..

    BalasHapus